Salin URL

Apa Itu Research Gap dalam Skripsi?

Memulai skripsi sering kali membuat mahasiswa bingung, terutama ketika harus menentukan alasan mengapa penelitian tersebut perlu dilakukan. Tidak sedikit mahasiswa yang sudah memiliki topik dan judul, tetapi ketika ditanya dosen, “Apa research gap dari penelitian kamu?”, justru belum bisa memberikan jawaban yang jelas.

Padahal, memahami apa itu research gap dalam skripsi merupakan salah satu bagian penting dalam menyusun penelitian. Research gap dapat membantu mahasiswa menemukan alasan akademis mengapa sebuah penelitian layak dilakukan. Dengan research gap yang jelas, penelitian tidak hanya sekadar membahas topik yang menarik, tetapi juga memiliki posisi di antara penelitian-penelitian yang sudah ada.

Sederhananya, research gap dapat dipahami sebagai celah atau bagian yang masih belum terjawab, belum lengkap, atau masih dapat dikembangkan dari penelitian sebelumnya.

Namun, research gap bukan berarti harus menemukan topik yang belum pernah diteliti sama sekali. Kamu bisa menemukan gap dari perbedaan hasil penelitian, objek yang berbeda, metode yang berbeda, teori yang belum diterapkan pada konteks tertentu, atau keterbatasan penelitian sebelumnya.

Lalu, bagaimana cara menemukan research gap untuk skripsi? Apa saja jenisnya? Dan bagaimana cara menuliskannya dalam latar belakang?

Simak pembahasannya berikut ini.


Apa Itu Research Gap dalam Skripsi?

Research gap adalah celah penelitian yang menunjukkan adanya bagian tertentu dari suatu topik yang belum terjawab atau masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Research gap biasanya ditemukan setelah mahasiswa membaca dan membandingkan beberapa penelitian terdahulu.

Misalnya, kamu menemukan tiga penelitian mengenai pengaruh media sosial terhadap keputusan pembelian.

Penelitian pertama menemukan adanya pengaruh.

Penelitian kedua tidak menemukan pengaruh yang signifikan.

Sementara penelitian ketiga menggunakan objek yang berbeda dan mendapatkan hasil yang berbeda pula.

Perbedaan tersebut dapat menjadi salah satu bentuk research gap.

Dari sini, kamu dapat mengembangkan pertanyaan:

Mengapa hasil penelitian sebelumnya berbeda?

Kemudian kamu bisa melakukan penelitian untuk melihat fenomena tersebut pada konteks, objek, atau kondisi tertentu.

Jadi, research gap bukan sekadar mencari sesuatu yang belum pernah diteliti, tetapi mencari bagian yang masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut.


Mengapa Research Gap Penting dalam Skripsi?

Research gap penting karena membantu menunjukkan bahwa penelitian yang kamu lakukan memiliki alasan yang jelas.

Tanpa research gap, penelitian bisa terlihat seperti hanya mengulang penelitian sebelumnya.

Beberapa manfaat research gap antara lain:

1. Menunjukkan alasan penelitian dilakukan

Research gap membantu menjawab pertanyaan:

“Mengapa penelitian ini perlu dilakukan?”

2. Membantu menentukan fokus penelitian

Dengan mengetahui bagian yang belum terjawab, kamu dapat menentukan fokus penelitian secara lebih spesifik.

3. Membantu menemukan kebaruan penelitian

Research gap dapat menjadi dasar untuk menunjukkan aspek yang membedakan penelitianmu dari penelitian sebelumnya.

4. Memperkuat latar belakang

Latar belakang skripsi akan lebih kuat jika tidak hanya menjelaskan fenomena, tetapi juga menunjukkan masalah akademis yang belum selesai.

5. Memudahkan penyusunan rumusan masalah

Research gap dapat membantu mengarahkan pertanyaan penelitian.


Research Gap Tidak Harus Sesuatu yang Benar-Benar Baru

Ini merupakan salah satu hal penting yang perlu dipahami mahasiswa.

Banyak yang mengira bahwa research gap berarti harus menemukan topik yang belum pernah diteliti siapa pun.

Padahal, dalam penelitian akademik, sebuah penelitian masih dapat memiliki kontribusi meskipun topiknya sudah pernah diteliti.

Misalnya penelitian terdahulu membahas:

Pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan masyarakat di rumah sakit.

Kamu menemukan fenomena serupa pada pelayanan administrasi publik berbasis digital.

Topiknya masih berkaitan, tetapi konteksnya berbeda.

Perbedaan objek dan konteks tersebut dapat menjadi dasar untuk mengembangkan penelitian baru, selama terdapat alasan akademis yang jelas.


Jenis-Jenis Research Gap dalam Skripsi

Research gap dapat muncul dalam berbagai bentuk. Berikut beberapa jenis yang sering digunakan dalam penelitian.

1. Empirical Gap

Empirical gap muncul ketika hasil penelitian terdahulu menunjukkan temuan yang berbeda atau tidak konsisten.

Contohnya:

Penelitian A menyatakan bahwa kualitas pelayanan berpengaruh terhadap kepuasan masyarakat.

Namun, penelitian B menemukan bahwa kualitas pelayanan tidak memiliki pengaruh yang signifikan.

Perbedaan hasil tersebut dapat menjadi dasar untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

Kamu kemudian dapat menguji hubungan tersebut pada objek atau konteks tertentu.


2. Theoretical Gap

Theoretical gap terjadi ketika terdapat keterbatasan atau perbedaan dalam penggunaan teori untuk menjelaskan suatu fenomena.

Misalnya sebagian penelitian menggunakan Teori A untuk menjelaskan perilaku konsumen, tetapi terdapat fenomena tertentu yang belum cukup dijelaskan menggunakan teori tersebut.

Kamu kemudian dapat mempertimbangkan teori lain yang lebih sesuai.

Namun, penggunaan teori baru harus memiliki alasan akademis dan didukung literatur yang memadai.


3. Methodological Gap

Methodological gap muncul ketika penelitian sebelumnya menggunakan pendekatan atau metode tertentu, tetapi masih terdapat peluang untuk menggunakan metode lain.

Misalnya:

  • Penelitian sebelumnya menggunakan survei kuantitatif.
  • Penelitian baru ingin mengeksplorasi pengalaman responden melalui pendekatan kualitatif.

Perbedaan metode tersebut dapat membantu melihat fenomena dari sudut pandang berbeda.


4. Population Gap

Population gap berkaitan dengan perbedaan populasi atau karakteristik subjek penelitian.

Misalnya penelitian sebelumnya berfokus pada:

Konsumen umum.

Sementara penelitianmu ingin melihat:

Mahasiswa sebagai pengguna layanan digital.

Perbedaan karakteristik populasi dapat memberikan perspektif baru terhadap fenomena yang diteliti.


5. Contextual Gap

Contextual gap muncul ketika penelitian sebelumnya dilakukan dalam konteks tertentu, sementara konteks lain belum banyak dikaji.

Contohnya:

Penelitian sebelumnya banyak dilakukan pada perusahaan besar.

Kamu ingin melihat fenomena serupa pada UMKM lokal.

Perbedaan konteks tersebut dapat menjadi dasar penelitian, terutama jika kondisi objek memiliki karakteristik yang berbeda.


6. Practical Gap

Practical gap muncul ketika terdapat masalah nyata di lapangan yang belum sepenuhnya terjawab oleh penelitian atau praktik yang ada.

Misalnya sebuah instansi sudah menerapkan layanan digital, tetapi masyarakat masih mengalami kesulitan dalam menggunakannya.

Penelitian dapat dilakukan untuk memahami penyebab atau proses yang terjadi.


Cara Menemukan Research Gap untuk Skripsi

Setelah memahami apa itu research gap dalam skripsi, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana cara menemukannya.

Berikut langkah yang bisa kamu lakukan.

1. Tentukan Topik Penelitian

Sebelum mencari research gap, kamu perlu menentukan bidang yang ingin diteliti.

Misalnya:

  • Digital marketing.
  • Pelayanan publik.
  • Pendidikan.
  • Manajemen.
  • Komunikasi.
  • Ekonomi.
  • Teknologi.
  • Media sosial.

Tidak perlu langsung menentukan judul final.

Yang penting, kamu memiliki topik awal untuk ditelusuri.


2. Cari Penelitian Terdahulu

Setelah menentukan topik, cari artikel jurnal yang relevan.

Gunakan beberapa kata kunci yang berkaitan dengan topik.

Misalnya kamu ingin meneliti:

Digital marketing dan keputusan pembelian.

Kamu bisa mencari penelitian dengan kombinasi kata kunci seperti:

  • Digital marketing AND purchase decision.
  • Social media marketing AND consumer behavior.
  • Content marketing AND buying decision.
  • Digital marketing AND UMKM.

Tujuannya adalah memperoleh gambaran mengenai penelitian yang sudah dilakukan.


3. Jangan Hanya Membaca Judul

Kesalahan yang sering dilakukan mahasiswa adalah hanya membaca judul penelitian.

Padahal, research gap sering kali ditemukan di bagian:

  • Pendahuluan.
  • Literature review.
  • Discussion.
  • Conclusion.
  • Limitations.
  • Suggestions for future research.

Bagian keterbatasan penelitian dan saran penelitian selanjutnya sangat berguna untuk menemukan kemungkinan pengembangan penelitian.


4. Buat Tabel Penelitian Terdahulu

Agar lebih mudah membandingkan penelitian, buat tabel.

Contohnya:

PenelitianObjekVariabel/FokusMetodeHasilKeterbatasan
AUMKMDigital MarketingKuantitatifBerpengaruhObjek terbatas
BPerusahaanSocial MediaKuantitatifTidak signifikanSampel terbatas
CUMKMContent MarketingKualitatifStrategi tertentuLokasi terbatas

Setelah beberapa penelitian dibandingkan, kamu akan lebih mudah melihat pola.


5. Cari Perbedaan Hasil Penelitian

Perhatikan apakah terdapat penelitian yang menghasilkan kesimpulan berbeda.

Misalnya:

Penelitian A: Digital marketing berpengaruh terhadap keputusan pembelian.

Penelitian B: Digital marketing tidak berpengaruh secara signifikan.

Pertanyaan berikutnya:

Mengapa hasilnya berbeda?

Pertanyaan tersebut dapat menjadi awal untuk menemukan research gap.


6. Perhatikan Keterbatasan Penelitian

Bagian keterbatasan penelitian sangat penting.

Misalnya peneliti sebelumnya menuliskan bahwa:

  • Penelitian hanya dilakukan pada satu wilayah.
  • Jumlah responden terbatas.
  • Penelitian hanya menggunakan satu variabel.
  • Penelitian menggunakan pendekatan tertentu.
  • Objek penelitian hanya berasal dari satu kategori.

Keterbatasan tersebut dapat menjadi peluang untuk penelitian selanjutnya.

Tetapi jangan langsung menjadikan semua keterbatasan sebagai research gap. Tetap perlu dilihat apakah pengembangan tersebut relevan dan memiliki alasan akademis.


7. Cari Fenomena yang Berbeda

Research gap juga dapat dikembangkan dari fenomena baru.

Misalnya penelitian lama dilakukan ketika penggunaan suatu platform masih rendah.

Beberapa tahun kemudian, penggunaan platform tersebut meningkat secara signifikan.

Perubahan kondisi tersebut dapat menjadi alasan untuk menguji kembali fenomena dalam konteks yang lebih baru, jika didukung oleh literatur dan masalah penelitian yang jelas.


8. Tentukan Research Gap yang Paling Relevan

Jangan memasukkan terlalu banyak gap ke dalam satu penelitian.

Pilih gap yang:

  • Relevan dengan topik.
  • Bisa diteliti.
  • Didukung penelitian terdahulu.
  • Sesuai kemampuan.
  • Memiliki data yang memungkinkan diperoleh.
  • Sesuai dengan waktu penelitian.

Research gap yang sederhana tetapi jelas lebih baik daripada banyak gap yang sulit dibuktikan.


Contoh Research Gap dalam Skripsi

Misalnya kamu mengambil topik:

“Pengaruh Social Media Marketing terhadap Keputusan Pembelian.”

Kamu menemukan beberapa penelitian terdahulu.

Penelitian pertama menemukan pengaruh positif.

Penelitian kedua menemukan hasil yang berbeda.

Penelitian ketiga menggunakan objek perusahaan besar.

Dari sana kamu dapat menemukan beberapa kemungkinan gap:

Empirical gap: hasil penelitian sebelumnya tidak konsisten.

Contextual gap: penelitian lebih banyak dilakukan pada perusahaan besar.

Population gap: karakteristik responden yang digunakan berbeda.

Selanjutnya, kamu bisa memilih salah satu gap yang paling sesuai dengan penelitianmu.


Contoh Penulisan Research Gap

Research gap biasanya tidak ditulis hanya dalam satu kalimat.

Kamu dapat membangunnya secara bertahap.

Contoh:

Penelitian mengenai penggunaan media sosial sebagai strategi pemasaran telah banyak dilakukan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa aktivitas pemasaran melalui media sosial dapat memengaruhi perilaku konsumen. Namun, penelitian lainnya menunjukkan hasil yang berbeda pada hubungan antara aktivitas pemasaran digital dan keputusan pembelian. Selain itu, sebagian penelitian masih berfokus pada perusahaan dengan skala tertentu sehingga konteks UMKM belum banyak dibahas dalam konteks penelitian yang sama. Perbedaan temuan dan konteks tersebut menunjukkan adanya ruang untuk penelitian lebih lanjut mengenai hubungan pemasaran melalui media sosial dan keputusan pembelian pada objek yang lebih spesifik.

Contoh tersebut masih perlu disesuaikan dengan jurnal yang benar-benar kamu gunakan.

Jangan membuat research gap berdasarkan asumsi tanpa membaca sumber penelitian aslinya.


Cara Menulis Research Gap di Latar Belakang

Research gap biasanya dapat ditempatkan setelah pembahasan mengenai fenomena dan penelitian terdahulu.

Alurnya dapat dibuat seperti ini:

Fenomena

↓

Masalah

↓

Penelitian terdahulu

↓

Perbandingan penelitian

↓

Research gap

↓

Alasan penelitian dilakukan

↓

Tujuan penelitian

Dengan alur tersebut, pembaca dapat memahami mengapa penelitianmu diperlukan.


Perbedaan Research Gap dan Novelty

Research gap dan novelty sering dianggap sama, padahal keduanya berbeda.

Research gap adalah celah atau masalah dalam pengetahuan yang menjadi alasan penelitian dilakukan.

Sementara novelty adalah aspek kebaruan atau kontribusi yang ditawarkan penelitian.

Contohnya:

Penelitian sebelumnya memberikan hasil yang tidak konsisten mengenai hubungan antara kualitas pelayanan dan kepuasan masyarakat.

Ini merupakan research gap.

Kemudian:

Penelitian ini menguji hubungan tersebut pada konteks pelayanan administrasi digital dengan karakteristik pengguna tertentu.

Bagian yang membedakan penelitian tersebut dapat menjadi bagian dari novelty, apabila memang memiliki kontribusi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Jadi, sederhananya:

Research gap = celah yang ditemukan.

Novelty = kebaruan yang ditawarkan untuk mengisi atau merespons celah tersebut.


Kesalahan Saat Menentukan Research Gap

Ada beberapa kesalahan yang perlu dihindari.

1. Menganggap topik yang belum pernah diteliti sebagai satu-satunya research gap

Tidak selalu demikian.

Research gap dapat berupa perbedaan hasil, metode, objek, konteks, maupun teori.

2. Mengarang hasil penelitian terdahulu

Jangan pernah menulis bahwa penelitian sebelumnya menemukan sesuatu jika kamu belum membaca sumbernya.

3. Hanya menggunakan satu jurnal

Satu jurnal biasanya belum cukup untuk menunjukkan pola penelitian.

Bandingkan beberapa penelitian yang relevan.

4. Tidak mencantumkan sumber

Setiap klaim mengenai penelitian terdahulu harus didukung referensi yang jelas.

5. Research gap tidak berhubungan dengan judul

Jangan sampai gap membahas satu masalah, tetapi judul penelitian justru membahas hal lain.

6. Terlalu memaksakan novelty

Tidak semua penelitian harus memiliki kebaruan yang sangat besar.

Yang penting adalah kontribusi penelitian dapat dijelaskan dan dipertanggungjawabkan.


Tips Menemukan Research Gap dengan Lebih Cepat

Jika kamu baru belajar penelitian, gunakan langkah sederhana berikut.

Langkah 1

Tentukan satu topik.

Langkah 2

Cari minimal beberapa penelitian yang relevan.

Langkah 3

Catat objek, metode, variabel, hasil, dan keterbatasannya.

Langkah 4

Bandingkan hasil penelitian.

Langkah 5

Cari perbedaan atau bagian yang belum dibahas.

Langkah 6

Pilih gap yang paling realistis.

Langkah 7

Hubungkan gap dengan fenomena penelitian.

Langkah 8

Tentukan judul berdasarkan fokus tersebut.

Dengan cara ini, judul skripsi tidak dibuat secara acak, tetapi berdasarkan proses penelitian yang lebih terarah.


Checklist Research Gap untuk Skripsi

Sebelum memasukkan research gap ke proposal, cek beberapa hal berikut:

  • Sudah menentukan topik penelitian.
  • Sudah membaca beberapa penelitian terdahulu.
  • Sumber penelitian relevan dengan topik.
  • Sudah mencatat hasil penelitian.
  • Sudah membandingkan penelitian.
  • Sudah menemukan perbedaan atau keterbatasan.
  • Research gap memiliki sumber yang jelas.
  • Gap relevan dengan masalah penelitian.
  • Gap dapat diteliti.
  • Gap sesuai dengan metode penelitian.
  • Gap mendukung alasan pemilihan judul.
  • Tidak membuat klaim tanpa bukti.

Kesimpulan

Jadi, apa itu research gap dalam skripsi? Research gap adalah celah dalam penelitian atau pengetahuan yang masih dapat dikaji lebih lanjut. Celah tersebut dapat muncul karena adanya perbedaan hasil penelitian, keterbatasan teori, perbedaan metode, perbedaan populasi, konteks penelitian, maupun masalah praktis yang belum terjawab secara memadai.

Untuk menemukan research gap, jangan hanya mencari judul penelitian yang belum pernah digunakan. Baca beberapa penelitian terdahulu secara menyeluruh, terutama bagian hasil, pembahasan, keterbatasan, dan saran penelitian selanjutnya.

Setelah itu, bandingkan penelitian-penelitian tersebut. Cari bagian yang berbeda, belum lengkap, atau masih membutuhkan penjelasan. Pilih research gap yang paling relevan dan realistis untuk diteliti.

Research gap kemudian dapat digunakan untuk memperkuat latar belakang, menentukan fokus penelitian, menyusun rumusan masalah, serta menjelaskan alasan mengapa penelitianmu perlu dilakukan.

Yang paling penting, jangan membuat research gap berdasarkan asumsi atau sekadar menebak isi jurnal. Pastikan setiap pernyataan mengenai penelitian terdahulu berasal dari sumber akademis yang benar-benar kamu baca.


Butuh Bantuan Menentukan Research Gap untuk Skripsi?

Masih bingung setelah membaca banyak jurnal tetapi belum menemukan research gap dalam skripsi? Atau sudah menemukan beberapa penelitian terdahulu tetapi kesulitan menghubungkannya dengan judul penelitian?

Molulus.id dapat membantu kamu mempersiapkan kebutuhan skripsi dengan lebih terarah, mulai dari pengembangan ide penelitian hingga penyusunan skripsi.

Kamu bisa melakukan order melalui website Molulus.id atau menghubungi:

WhatsApp: 085179917579

Jangan asal membuat research gap hanya agar proposal terlihat akademis. Pastikan gap benar-benar berasal dari penelitian terdahulu dan relevan dengan penelitian yang ingin kamu lakukan.

Sudah punya beberapa jurnal? Yuk, kembangkan menjadi research gap yang lebih jelas bersama Molulus.id.