Menentukan judul skripsi sering kali menjadi salah satu bagian yang paling membingungkan bagi mahasiswa. Banyak yang merasa harus menemukan ide penelitian yang benar-benar baru dan belum pernah dibahas oleh siapa pun. Padahal, ide skripsi sebenarnya bisa ditemukan dari berbagai fenomena yang terjadi di sekitar kita.
Fenomena sederhana di lingkungan kampus, tempat kerja, media sosial, masyarakat, organisasi, hingga perkembangan teknologi dapat menjadi sumber ide penelitian. Yang terpenting adalah mampu melihat fenomena tersebut sebagai sebuah masalah atau kondisi yang menarik untuk dikaji secara akademis.
Karena itu, memahami cara membuat judul skripsi dari fenomena dapat membantu mahasiswa menemukan ide penelitian dengan lebih mudah. Kamu tidak harus terus mencari judul skripsi di internet. Cobalah melihat apa yang sedang terjadi di sekitar, kemudian mengubahnya menjadi pertanyaan penelitian.
Artikel ini akan membahas langkah-langkah membuat judul skripsi dari fenomena, mulai dari menemukan fenomena, mengidentifikasi masalah, menentukan fokus penelitian, mencari referensi, sampai menyusun judul skripsi yang lebih spesifik.
Fenomena dalam penelitian dapat dipahami sebagai suatu kejadian, kondisi, perilaku, perubahan, atau permasalahan yang terjadi dan menarik untuk dikaji.
Fenomena tidak selalu harus berupa masalah besar.
Contohnya:
Semua contoh tersebut dapat menjadi titik awal untuk menemukan ide skripsi.
Namun, fenomena saja belum cukup untuk menjadi judul penelitian. Kamu masih perlu mencari tahu apa masalah yang menarik dari fenomena tersebut.
Salah satu keuntungan mengambil ide dari fenomena sekitar adalah kamu lebih mudah memahami konteks penelitian.
Misalnya kamu sering melihat mahasiswa menggunakan aplikasi pembelajaran digital.
Daripada langsung membuat judul:
“Penggunaan Aplikasi Pembelajaran Digital”
kamu bisa menggali lebih jauh.
Misalnya:
Dari pertanyaan tersebut, kamu bisa mulai menemukan fokus penelitian.
Artinya, fenomena menjadi titik awal, bukan hasil akhir dari proses menentukan judul skripsi.
Berikut langkah-langkah yang bisa kamu gunakan.
Langkah pertama adalah memperhatikan apa yang terjadi di lingkungan sekitar.
Kamu dapat mencari fenomena dari:
Tidak perlu langsung berpikir tentang judul.
Cukup catat beberapa fenomena yang menurutmu menarik.
Misalnya:
Fenomena 1: Mahasiswa semakin sering menggunakan TikTok untuk mencari informasi.
Fenomena 2: Banyak UMKM mulai menggunakan WhatsApp Business untuk berkomunikasi dengan pelanggan.
Fenomena 3: Pelayanan administrasi mulai menggunakan aplikasi digital.
Dari beberapa fenomena tersebut, pilih yang paling sesuai dengan jurusan dan minatmu.
Tidak semua fenomena harus dijadikan penelitian.
Pilih fenomena yang:
Misalnya kamu mahasiswa Administrasi Publik.
Kamu melihat pelayanan administrasi kependudukan sudah menggunakan sistem online, tetapi masih ada masyarakat yang kesulitan menggunakannya.
Fenomena tersebut lebih potensial untuk dikembangkan menjadi penelitian dibanding sekadar mengambil topik “pelayanan publik” secara umum.
Setelah menemukan fenomena, tanyakan:
“Apa masalah yang sebenarnya terjadi?”
Ini merupakan bagian penting dalam cara membuat judul skripsi dari fenomena.
Contohnya:
Fenomena:
Masyarakat menggunakan aplikasi pelayanan publik.
Masalah:
Sebagian masyarakat masih mengalami kesulitan memahami prosedur penggunaan aplikasi.
Dari sini muncul kemungkinan topik penelitian:
Pengalaman masyarakat dalam menggunakan layanan publik berbasis digital.
Masalah yang ditemukan akan membantu mempersempit arah penelitian.
Jika masih bingung menggali fenomena, gunakan pertanyaan sederhana:
Apa yang sedang terjadi?
Siapa yang mengalami fenomena tersebut?
Di mana fenomena terjadi?
Kapan fenomena tersebut terjadi?
Mengapa fenomena tersebut terjadi?
Bagaimana fenomena tersebut berlangsung?
Contohnya:
What: Penggunaan layanan publik digital meningkat.
Who: Masyarakat pengguna layanan.
Where: Instansi pelayanan tertentu.
Why: Masyarakat membutuhkan pelayanan yang lebih praktis.
How: Masyarakat mengakses layanan melalui aplikasi.
Dari pertanyaan tersebut, kamu akan mendapatkan informasi yang lebih lengkap untuk menentukan fokus penelitian.
Sebelum membuat judul, jangan hanya mengandalkan asumsi.
Cari informasi awal mengenai fenomena tersebut.
Sumbernya bisa berupa:
Data awal tidak selalu harus menjadi data utama penelitian.
Tujuannya adalah memastikan bahwa fenomena tersebut memang menarik dan layak untuk diteliti.
Setelah menemukan fenomena, cari penelitian yang sudah pernah membahas topik tersebut.
Penelitian terdahulu dapat membantu kamu mengetahui:
Dari sini kamu bisa menemukan research gap.
Research gap adalah celah atau ruang penelitian yang masih dapat dikembangkan.
Misalnya penelitian sebelumnya membahas digitalisasi pelayanan di kota besar, sedangkan kamu menemukan fenomena berbeda pada wilayah tertentu.
Hal tersebut dapat menjadi dasar untuk mengembangkan penelitian baru.
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan mahasiswa adalah membuat topik terlalu luas.
Contohnya:
“Media Sosial pada Mahasiswa.”
Judul tersebut masih sangat umum.
Kamu dapat mempersempitnya menjadi:
“Pengalaman Mahasiswa dalam Menggunakan Media Sosial sebagai Sumber Informasi Akademik.”
Sekarang fokusnya lebih jelas.
Begitu juga dengan topik UMKM.
Dari:
“UMKM dan Media Sosial.”
bisa dikembangkan menjadi:
“Strategi UMKM dalam Memanfaatkan Media Sosial sebagai Media Pemasaran.”
Semakin jelas fokus penelitian, semakin mudah menentukan metode dan data yang dibutuhkan.
Objek penelitian harus realistis untuk dijangkau.
Misalnya kamu ingin meneliti mahasiswa.
Jangan hanya menulis:
“Mahasiswa.”
Persempit sesuai kebutuhan penelitian.
Misalnya:
“Mahasiswa pengguna aplikasi pembelajaran digital.”
Atau:
“Mahasiswa tingkat akhir pengguna media sosial.”
Objek yang lebih spesifik akan membantu menentukan siapa yang akan menjadi sumber data.
Jika penelitianmu menggunakan metode kuantitatif, fenomena dapat dikembangkan menjadi variabel penelitian.
Contohnya:
Fenomena: Banyak mahasiswa menggunakan media sosial untuk mencari informasi produk.
Kemudian kamu menemukan kemungkinan variabel:
X = Intensitas penggunaan media sosial
Y = Minat beli
Dari sana bisa dikembangkan menjadi:
“Pengaruh Intensitas Penggunaan Media Sosial terhadap Minat Beli Mahasiswa.”
Jadi, fenomena dapat menjadi sumber untuk menemukan hubungan antarvariabel.
Untuk penelitian kualitatif, kamu bisa lebih fokus pada pengalaman, proses, persepsi, strategi, atau makna.
Contohnya:
Fenomena: UMKM menggunakan media sosial untuk pemasaran.
Kemudian kamu ingin mengetahui bagaimana strategi mereka.
Judul dapat dikembangkan menjadi:
“Strategi UMKM dalam Memanfaatkan Media Sosial sebagai Media Pemasaran.”
Jika ingin menggali pengalaman:
“Pengalaman Pelaku UMKM dalam Memanfaatkan Media Sosial untuk Pemasaran.”
Pilihan judul harus disesuaikan dengan pertanyaan dan tujuan penelitian.
Jangan hanya membuat satu judul.
Sebaiknya buat minimal tiga sampai lima alternatif.
Misalnya fenomenanya adalah penggunaan layanan digital.
Alternatif 1:
Pengalaman Masyarakat dalam Menggunakan Layanan Publik Digital.
Alternatif 2:
Analisis Penggunaan Layanan Publik Berbasis Digital.
Alternatif 3:
Persepsi Masyarakat terhadap Pelayanan Publik Berbasis Digital.
Alternatif 4:
Pengaruh Kualitas Layanan Digital terhadap Kepuasan Masyarakat.
Dengan beberapa alternatif, kamu memiliki pilihan jika salah satu judul perlu diperbaiki.
Berikut beberapa contoh sederhana.
Pertanyaan:
Contoh judul:
“Pengalaman Mahasiswa dalam Memanfaatkan AI sebagai Pendukung Pembelajaran.”
Pertanyaan:
Contoh judul:
“Strategi UMKM dalam Memanfaatkan Media Sosial untuk Pemasaran.”
Pertanyaan:
Contoh judul:
“Pengalaman Masyarakat dalam Menggunakan Pelayanan Publik Berbasis Digital.”
Pertanyaan:
Contoh judul:
“Strategi Mahasiswa dalam Menyeimbangkan Aktivitas Akademik dan Organisasi.”
Tidak semua fenomena cocok untuk penelitian.
Fenomena yang potensial biasanya memiliki beberapa karakteristik.
Topik harus memiliki hubungan dengan bidang studi.
Ada sesuatu yang ingin kamu pahami atau jelaskan.
Data atau informasi yang dibutuhkan memungkinkan untuk diperoleh.
Kamu mengetahui siapa atau apa yang akan diteliti.
Fenomena perlu dibatasi agar penelitian lebih terarah.
Terdapat teori atau penelitian terdahulu yang dapat digunakan.
Ada beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari.
Fenomena yang menarik belum tentu menjadi masalah penelitian.
Topik yang terlalu umum membuat penelitian sulit dikendalikan.
Pastikan data bisa diperoleh sebelum menetapkan judul.
Topik yang sedang viral belum tentu sesuai dengan jurusan atau kemampuanmu.
Penelitian terdahulu sebaiknya digunakan sebagai referensi untuk mengembangkan ide, bukan untuk disalin.
Saat bimbingan, dosen bisa bertanya mengapa kamu memilih fenomena tersebut. Karena itu, pahami masalah di balik judul.
Tidak ada judul yang bisa dijamin langsung disetujui karena keputusan tetap bergantung pada dosen pembimbing dan ketentuan program studi.
Namun, kamu bisa meningkatkan kesiapan judul dengan:
Dengan persiapan tersebut, proses konsultasi biasanya menjadi lebih terarah.
Sebelum mengajukan judul, coba cek:
Jika beberapa poin masih belum terpenuhi, jangan terburu-buru mengunci judul. Gunakan waktu untuk memperjelas fenomena dan masalah penelitian terlebih dahulu.
Cara membuat judul skripsi dari fenomena sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan. Kamu tidak harus menunggu mendapatkan ide yang benar-benar unik. Banyak ide penelitian dapat ditemukan dari hal-hal sederhana yang terjadi di sekitar.
Mulailah dengan mengamati fenomena, kemudian cari masalah di baliknya. Gunakan pertanyaan 5W + 1H untuk menggali informasi, cari data awal, baca penelitian terdahulu, tentukan fokus, pilih objek, lalu kembangkan menjadi beberapa alternatif judul.
Untuk penelitian kuantitatif, fenomena dapat dikembangkan menjadi variabel yang dapat diukur. Sementara itu, penelitian kualitatif dapat diarahkan untuk menggali pengalaman, persepsi, strategi, proses, atau fenomena secara lebih mendalam.
Yang paling penting, jangan memilih judul hanya karena terdengar bagus. Pastikan topik tersebut sesuai dengan jurusan, menarik untuk dipelajari, memiliki masalah yang jelas, dan realistis untuk dikerjakan.
Dengan begitu, kamu bukan hanya mendapatkan judul skripsi, tetapi juga memiliki dasar yang kuat untuk melanjutkan penelitian.
Sudah menemukan fenomena tetapi masih bingung mengubahnya menjadi judul skripsi?
Molulus.id siap membantu kamu mempersiapkan kebutuhan skripsi agar proses penelitian lebih terarah, mulai dari pengembangan ide hingga penyusunan penelitian.
Kamu bisa melakukan order melalui website Molulus.id atau menghubungi:
WhatsApp: 085179917579
Jangan biarkan ide penelitian berhenti hanya karena bingung menentukan judul.
Sudah punya fenomena yang ingin diteliti? Kembangkan ide tersebut bersama Molulus.id.