Membuat latar belakang skripsi dari fenomena merupakan salah satu cara yang cukup efektif untuk menghasilkan penelitian yang memiliki dasar masalah yang jelas. Banyak mahasiswa sebenarnya sudah menemukan berbagai fenomena menarik di lingkungan sekitar, tetapi masih bingung bagaimana mengubah fenomena tersebut menjadi latar belakang skripsi.
Padahal, fenomena yang sederhana sekalipun bisa menjadi awal dari sebuah penelitian selama memiliki masalah yang relevan dan dapat dikaji secara akademis.
Misalnya, kamu melihat masyarakat semakin sering menggunakan layanan digital. Fenomena tersebut belum otomatis menjadi topik skripsi. Kamu perlu menggali lebih jauh: apa yang berubah, masalah apa yang muncul, siapa yang terdampak, apa penyebabnya, dan mengapa kondisi tersebut penting untuk diteliti.
Dari proses tersebut, fenomena dapat dikembangkan menjadi latar belakang yang mengarah pada masalah penelitian.
Dalam artikel ini, kita akan membahas cara membuat latar belakang dari fenomena secara bertahap, mulai dari menemukan fenomena, mengumpulkan data, mengidentifikasi masalah, mencari penelitian terdahulu, menemukan research gap, sampai menyusun paragraf latar belakang.
Fenomena adalah suatu kondisi, kejadian, perubahan, atau permasalahan yang dapat diamati dan memiliki keterkaitan dengan bidang penelitian.
Fenomena dapat ditemukan hampir di mana saja, misalnya:
Contohnya, mahasiswa melihat bahwa banyak masyarakat sudah menggunakan aplikasi pelayanan publik, tetapi masih ada pengguna yang mengalami kesulitan ketika mengakses layanan.
Fenomenanya adalah perubahan menuju pelayanan digital, sedangkan masalah yang dapat diteliti bisa berkaitan dengan kemudahan penggunaan, kualitas pelayanan, aksesibilitas, kepuasan pengguna, atau efektivitas layanan.
Jadi, fenomena dan masalah bukan sesuatu yang selalu sama.
Fenomena adalah kondisi yang diamati, sedangkan masalah adalah bagian dari fenomena yang membutuhkan penjelasan atau kajian lebih lanjut.
Fenomena dapat membantu membuat latar belakang terasa lebih nyata.
Daripada memulai tulisan hanya dengan definisi teori, kamu dapat memulai dari kondisi yang benar-benar terjadi.
Misalnya:
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh berbagai layanan. Berbagai aktivitas yang sebelumnya dilakukan secara langsung kini mulai tersedia melalui platform digital.
Kemudian pembahasan dapat diarahkan kepada fenomena yang lebih spesifik.
Perubahan tersebut juga terjadi dalam pelayanan publik. Masyarakat kini dapat mengakses sejumlah layanan secara daring tanpa harus datang langsung ke kantor pelayanan.
Setelah itu, cari masalah:
Namun, penerapan layanan digital belum tentu membuat seluruh masyarakat memperoleh pengalaman pelayanan yang sama.
Dari sini, latar belakang mulai memiliki arah penelitian.
Langkah pertama adalah mencari fenomena yang benar-benar menarik perhatian.
Tidak perlu langsung mencari fenomena yang sangat besar. Masalah sederhana di sekitar juga dapat menjadi ide penelitian.
Coba perhatikan:
Misalnya kamu melihat mahasiswa semakin sering menggunakan AI untuk membantu proses belajar.
Fenomenanya adalah meningkatnya penggunaan AI dalam kegiatan akademik.
Dari fenomena tersebut, kamu dapat menggali berbagai masalah, seperti penggunaan AI, pemahaman mahasiswa, pola belajar, atau tantangan dalam penggunaannya.
Jangan hanya menyimpan fenomena di kepala.
Buat catatan sederhana.
Contohnya:
Fenomena: Mahasiswa semakin sering menggunakan platform AI.
Kondisi: AI digunakan untuk mencari informasi dan membantu memahami materi.
Masalah awal: Tidak semua mahasiswa menggunakan AI dengan cara yang sama.
Pertanyaan: Apakah penggunaan AI membantu proses belajar atau justru membuat mahasiswa terlalu bergantung?
Catatan seperti ini akan memudahkan proses mencari fokus penelitian.
Tidak semua fenomena harus dijadikan skripsi.
Pilih fenomena yang:
Misalnya kamu tertarik dengan fenomena media sosial.
Topik “Pengaruh Media Sosial terhadap Masyarakat” terlalu luas.
Kamu dapat mempersempitnya menjadi:
Pengaruh intensitas penggunaan media sosial terhadap perilaku konsumtif mahasiswa.
Dengan mempersempit topik, penelitian menjadi lebih realistis.
Ini merupakan salah satu bagian penting dalam cara membuat latar belakang dari fenomena.
Fenomena harus dikembangkan menjadi masalah.
Contoh:
Fenomena: Penggunaan layanan pembayaran digital meningkat.
Jangan langsung menjadikan kalimat tersebut sebagai masalah.
Tanyakan:
Apa yang menarik dari peningkatan tersebut?
Misalnya ternyata terdapat pengguna yang mengalami kendala keamanan, kesulitan menggunakan fitur, atau kurang memahami sistem pembayaran.
Maka masalah penelitian mulai terlihat.
Pola sederhananya:
Fenomena → Pertanyaan → Masalah → Fokus penelitian
Setelah menemukan fenomena, cari data pendukung.
Data akan membantu membuktikan bahwa fenomena tersebut memang relevan.
Data dapat berasal dari:
Misalnya kamu meneliti penggunaan layanan digital. Kamu bisa mencari data mengenai jumlah pengguna, tingkat penggunaan, pertumbuhan layanan, atau hasil survei terkait.
Jangan menggunakan data hanya untuk membuat latar belakang terlihat panjang.
Pastikan data benar-benar membantu menjelaskan fenomena dan masalah.
Setelah memasukkan data, jelaskan apa arti data tersebut.
Contohnya:
Data menunjukkan adanya peningkatan penggunaan layanan digital dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat semakin terbiasa menggunakan teknologi untuk memenuhi kebutuhan pelayanan.
Kemudian lanjutkan:
Namun, meningkatnya penggunaan layanan digital tidak selalu berarti seluruh pengguna memperoleh pengalaman yang sama. Sebagian pengguna masih dapat menghadapi kendala dalam memahami prosedur, mengakses fitur, maupun memperoleh informasi.
Dengan cara tersebut, data menjadi bagian dari argumentasi, bukan sekadar angka.
Setelah membahas fenomena secara umum, mulai arahkan kepada objek penelitian.
Misalnya:
Umum: Digitalisasi berkembang.
↓
Lebih spesifik: Digitalisasi pelayanan publik meningkat.
↓
Lebih spesifik: Instansi X menerapkan pelayanan digital.
↓
Masalah: Sebagian pengguna masih mengalami kendala.
↓
Fokus: Kualitas pelayanan digital pada Instansi X.
Inilah yang dimaksud dengan alur dari umum ke khusus.
Setelah menemukan masalah, cari penelitian yang sudah membahas topik tersebut.
Penelitian terdahulu dapat membantu kamu memahami:
Jangan hanya mencari jurnal yang judulnya sama persis.
Cari penelitian yang memiliki hubungan dengan variabel, fenomena, objek, atau masalah yang kamu teliti.
Research gap menjadi salah satu bagian penting untuk memperkuat alasan penelitian.
Research gap bisa ditemukan melalui:
Penelitian A menghasilkan kesimpulan tertentu, sementara penelitian B menunjukkan hasil berbeda.
Penelitian sebelumnya dilakukan pada perusahaan, sedangkan penelitianmu dilakukan pada instansi pemerintah.
Penelitian terdahulu dilakukan di kota tertentu, sedangkan penelitianmu dilakukan di wilayah berbeda.
Penelitian sebelumnya menggunakan metode kuantitatif, sedangkan penelitianmu menggunakan pendekatan kualitatif.
Peneliti terdahulu menyebutkan adanya aspek yang belum dibahas secara mendalam.
Research gap membantu menunjukkan bahwa penelitianmu bukan sekadar mengulang penelitian sebelumnya.
Setelah semua bahan terkumpul, susun alurnya.
Struktur yang dapat digunakan adalah:
Jelaskan kondisi atau perubahan yang terjadi.
Berikan konteks yang lebih spesifik.
Masukkan data yang relevan.
Persempit pembahasan pada objek yang dipilih.
Jelaskan kesenjangan atau masalah yang ditemukan.
Bahas beberapa penelitian yang relevan.
Tunjukkan bagian yang masih dapat diteliti.
Jelaskan mengapa penelitian perlu dilakukan.
Jumlah paragraf tersebut bukan aturan mutlak. Sesuaikan dengan pedoman kampus dan kebutuhan penelitian.
Misalnya kamu menemukan fenomena:
Banyak mahasiswa menggunakan layanan pesan antar makanan.
Jangan langsung membuat judul:
“Penggunaan Layanan Pesan Antar Makanan.”
Topik tersebut masih terlalu luas.
Coba gali lebih jauh.
Fenomena: Penggunaan layanan pesan antar meningkat.
Pertanyaan: Mengapa mahasiswa memilih layanan tersebut?
Kemungkinan masalah: Kemudahan, harga, promosi, kebiasaan, atau keterbatasan waktu.
Fokus: Faktor yang memengaruhi keputusan mahasiswa menggunakan layanan pesan antar.
Dari sini, kamu sudah memiliki dasar yang lebih jelas untuk mengembangkan penelitian.
Misalnya fenomenanya adalah digitalisasi pelayanan.
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan dalam berbagai aktivitas masyarakat. Pemanfaatan teknologi tidak hanya terjadi dalam komunikasi dan perdagangan, tetapi juga dalam penyelenggaraan pelayanan publik.
Salah satu bentuk perubahan tersebut adalah munculnya berbagai layanan publik berbasis digital. Masyarakat dapat memperoleh informasi dan mengakses sejumlah layanan tanpa harus selalu datang secara langsung ke kantor pelayanan.
Meskipun memberikan kemudahan, penerapan layanan digital juga menghadirkan sejumlah tantangan. Tidak semua pengguna memiliki pengalaman yang sama dalam mengakses layanan, terutama ketika menghadapi kendala teknis atau kurangnya informasi.
Kondisi tersebut juga dapat ditemukan pada layanan X yang telah menerapkan sistem digital dalam proses pelayanannya.
Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan penelitian untuk mengetahui bagaimana kualitas pelayanan digital pada objek tersebut dan bagaimana pengalaman pengguna terhadap layanan yang diberikan.
Contoh di atas masih berupa pola sederhana. Dalam skripsi, setiap pernyataan penting perlu didukung sumber dan data yang relevan.
Ketika membuat latar belakang dari fenomena, jangan hanya mengandalkan informasi dari media sosial atau blog.
Gunakan sumber yang sesuai dengan kebutuhan penelitian, seperti:
Periksa juga tahun publikasinya. Untuk data yang sifatnya berubah cepat, gunakan data yang masih relevan dengan konteks penelitian.
Tidak semua fenomena harus dijadikan penelitian.
Jika setelah dicari ternyata tidak ada masalah yang jelas, data sulit diperoleh, atau objek penelitian tidak dapat diakses, sebaiknya pertimbangkan kembali topiknya.
Fenomena yang bagus untuk penelitian bukan hanya fenomena yang sedang ramai, tetapi fenomena yang dapat dijelaskan, dianalisis, dan diteliti secara akademis.
Contohnya:
“Teknologi berkembang pesat.”
Pernyataan tersebut terlalu umum.
Persempit menjadi fenomena yang lebih spesifik.
Fenomena hanya berdasarkan asumsi pribadi tanpa bukti pendukung.
Tulisan hanya menjelaskan kondisi tetapi tidak menunjukkan sesuatu yang perlu diteliti.
Latar belakang berubah menjadi kumpulan teori.
Mahasiswa mencantumkan banyak jurnal tetapi tidak menjelaskan hubungan antarpenelitian.
Gap hanya dibuat berdasarkan klaim bahwa penelitian tersebut “belum pernah dilakukan” tanpa pencarian literatur yang memadai.
Pembahasan terlalu jauh dari fokus penelitian.
Berikut beberapa tips yang dapat digunakan:
Semakin memahami fenomenanya, semakin mudah menemukan masalah.
Data dapat membantu menentukan apakah fenomena tersebut layak diteliti.
Tuliskan:
Fenomena → Penyebab → Masalah → Dampak → Fokus penelitian
Jangan hanya mengandalkan satu penelitian terdahulu.
Tabel membantu menemukan persamaan dan perbedaan penelitian.
Jangan langsung menulis tanpa struktur.
Tanyakan:
“Setelah membaca latar belakang ini, apakah saya memahami alasan penelitian dilakukan?”
Jika belum, berarti alurnya masih perlu diperbaiki.
Sebelum menyelesaikan latar belakang, pastikan:
Cara membuat latar belakang dari fenomena dapat dimulai dari hal sederhana yang kamu temukan di sekitar. Namun, fenomena tersebut perlu dikembangkan melalui proses pengamatan, pengumpulan data, identifikasi masalah, pencarian penelitian terdahulu, dan penemuan research gap.
Alurnya dapat dibuat sederhana:
Fenomena → Data → Masalah → Objek → Penelitian Terdahulu → Research Gap → Urgensi → Fokus Penelitian.
Jangan langsung memikirkan bagaimana membuat latar belakang menjadi panjang. Fokus terlebih dahulu pada bagaimana membuat argumentasinya jelas.
Latar belakang yang baik bukan yang memiliki banyak halaman, melainkan yang mampu menjelaskan apa yang terjadi, apa masalahnya, apa buktinya, apa yang sudah diteliti, apa yang masih perlu dikaji, dan mengapa penelitian tersebut penting dilakukan.
Dengan memahami alur tersebut, fenomena sehari-hari dapat menjadi sumber ide yang menarik untuk dikembangkan menjadi penelitian skripsi.
Tetap gunakan pedoman penulisan dari kampus dan arahan dosen pembimbing sebagai acuan utama karena struktur Bab 1 dan ketentuan penulisan dapat berbeda pada setiap perguruan tinggi atau program studi.
Sudah menemukan fenomena tetapi masih bingung mengubahnya menjadi latar belakang? Atau masih kesulitan mencari masalah, penelitian terdahulu, dan research gap?
Kamu bisa mendapatkan bantuan kebutuhan skripsi melalui Molulus.id.
Untuk order atau konsultasi, hubungi WhatsApp:
Mulai dari ide penelitian hingga penyusunan skripsi, pastikan setiap bagian memiliki alur yang jelas dan sesuai dengan kebutuhan penelitian.
Sudah punya fenomena tetapi belum tahu cara mengembangkannya menjadi latar belakang? Yuk, mulai susun penelitianmu bersama Molulus.id.