Pedoman wawancara adalah panduan berisi topik, pertanyaan, atau poin-poin yang digunakan peneliti saat melakukan wawancara. Pedoman ini membantu peneliti menggali informasi secara terarah dan memastikan pembahasan tetap berkaitan dengan tujuan penelitian.
Dalam skripsi, pedoman wawancara sering digunakan pada penelitian kualitatif. Peneliti dapat mewawancarai informan untuk memahami pengalaman, pandangan, perilaku, atau proses tertentu. Pedoman juga dapat digunakan dalam penelitian lain yang memerlukan data melalui wawancara.
Cara membuat pedoman wawancara tidak cukup dengan menulis sejumlah pertanyaan. Peneliti perlu memahami rumusan masalah, menentukan informasi yang dibutuhkan, memilih informan yang sesuai, lalu menyusun pertanyaan berdasarkan fokus penelitian.
Pedoman wawancara bukan naskah yang harus selalu dibacakan secara kaku. Terutama dalam wawancara semi-terstruktur, peneliti dapat mengajukan pertanyaan lanjutan untuk memperjelas jawaban atau menggali pengalaman informan lebih dalam, selama tetap relevan dengan penelitian.
Pedoman wawancara memiliki beberapa fungsi penting dalam proses penelitian.
Pedoman membantu peneliti membahas topik yang berkaitan dengan rumusan masalah. Dengan begitu, wawancara tidak terlalu melebar ke hal-hal yang tidak diperlukan.
Pertanyaan yang dirancang dengan baik membantu peneliti memperoleh informasi sesuai fokus penelitian. Pedoman juga dapat mengingatkan peneliti untuk membahas aspek penting yang mungkin terlewat.
Urutan pertanyaan membantu wawancara berlangsung secara runtut, dari pertanyaan umum menuju pertanyaan yang lebih khusus.
Pertanyaan yang terstruktur berdasarkan topik atau indikator dapat membantu peneliti mengelompokkan hasil wawancara. Namun, analisis tetap perlu dilakukan dengan metode yang sesuai dengan desain penelitian.
Jika peneliti mewawancarai beberapa informan, pedoman membantu memastikan topik inti yang diperlukan dibahas secara konsisten. Peneliti tetap dapat menyesuaikan pertanyaan lanjutan dengan jawaban masing-masing informan.
Sebelum menyusun pedoman, tentukan jenis wawancara yang sesuai dengan tujuan penelitian.
Wawancara terstruktur menggunakan daftar pertanyaan yang telah ditetapkan sebelumnya. Pertanyaan dan urutannya relatif sama untuk setiap informan.
Jenis ini cocok ketika peneliti membutuhkan jawaban atas pertanyaan yang seragam. Ruang untuk mengubah urutan atau mengembangkan pertanyaan biasanya lebih terbatas.
Wawancara semi-terstruktur menggunakan pedoman pertanyaan inti, tetapi peneliti dapat mengajukan pertanyaan lanjutan berdasarkan jawaban informan.
Jenis ini banyak digunakan dalam penelitian kualitatif karena memberi keseimbangan antara arah wawancara dan keleluasaan menggali informasi.
Wawancara tidak terstruktur lebih terbuka dan fleksibel. Peneliti biasanya menyiapkan topik atau pokok bahasan, bukan daftar pertanyaan rinci yang harus diikuti secara kaku.
Jenis ini dapat digunakan ketika peneliti ingin mengeksplorasi pengalaman atau isu secara mendalam. Peneliti tetap perlu menjaga agar pembahasan relevan dengan fokus penelitian.
Berikut langkah-langkah yang dapat digunakan untuk menyusun pedoman wawancara skripsi.
Langkah pertama adalah memahami topik penelitian dan pertanyaan utama yang ingin dijawab.
Misalnya, penelitian berjudul:
“Pengalaman Mahasiswa dalam Menggunakan Pembelajaran Daring.”
Rumusan masalahnya dapat berfokus pada bagaimana mahasiswa mengalami pembelajaran daring, kendala yang dihadapi, dan cara mereka menyesuaikan diri.
Dari rumusan masalah tersebut, peneliti dapat menentukan informasi yang perlu digali melalui wawancara.
Tujuan wawancara menjelaskan informasi apa yang ingin diperoleh dari informan. Tujuan ini harus selaras dengan tujuan penelitian secara keseluruhan.
Contoh tujuan wawancara:
Tujuan yang jelas membantu peneliti menghindari pertanyaan yang tidak diperlukan.
Informan adalah orang yang dipilih untuk memberikan informasi sesuai kebutuhan penelitian. Pemilihan informan perlu didasarkan pada pertimbangan yang relevan, misalnya pengalaman, peran, atau keterlibatannya dalam fenomena yang diteliti.
Untuk contoh penelitian pembelajaran daring, informan dapat berupa mahasiswa yang pernah mengikuti pembelajaran daring. Jika penelitian juga membahas sudut pandang pengajar, dosen dapat dipertimbangkan sebagai kelompok informan tersendiri.
Jelaskan kriteria informan sesuai desain penelitian. Jangan memilih informan hanya karena mudah ditemui jika mereka tidak dapat memberikan informasi yang dibutuhkan.
Dalam penelitian kualitatif, peneliti dapat menyusun fokus atau aspek yang ingin dieksplorasi. Aspek tersebut dapat diturunkan dari rumusan masalah dan kajian teori.
Contohnya:
Fokus tersebut menjadi dasar untuk menyusun kisi-kisi wawancara.
Kisi-kisi merupakan rancangan yang menghubungkan tujuan atau fokus penelitian dengan aspek yang digali dan pertanyaan wawancara.
Kisi-kisi membantu peneliti memeriksa apakah semua aspek penting sudah memiliki pertanyaan yang relevan.
Gunakan pertanyaan yang jelas, netral, dan memberi kesempatan informan menjelaskan jawabannya. Untuk menggali pengalaman, pertanyaan terbuka sering lebih membantu dibandingkan pertanyaan yang hanya dapat dijawab “ya” atau “tidak”.
Contoh:
Pertanyaan kedua memberi ruang bagi informan untuk menjelaskan pengalaman dengan kata-katanya sendiri.
Mulailah dengan pertanyaan umum yang mudah dijawab, kemudian beralih ke pertanyaan yang lebih khusus atau mendalam.
Urutan yang dapat digunakan:
Urutan tersebut dapat disesuaikan dengan konteks penelitian dan kenyamanan informan.
Dalam wawancara semi-terstruktur, peneliti dapat menyiapkan pertanyaan pendalaman, misalnya:
Pertanyaan lanjutan sebaiknya digunakan untuk memperjelas atau memperdalam jawaban, bukan untuk mengarahkan informan pada jawaban yang diharapkan peneliti.
Pastikan pertanyaan mudah dipahami dan tidak menghakimi. Hindari pertanyaan yang terlalu pribadi jika tidak relevan dengan penelitian.
Peneliti juga perlu menjelaskan tujuan wawancara, meminta persetujuan informan sesuai kebutuhan, serta menyampaikan bagaimana informasi akan digunakan dan dijaga kerahasiaannya berdasarkan prosedur penelitian.
Sebelum wawancara utama, baca kembali pedoman untuk memeriksa kesesuaian pertanyaan dengan tujuan penelitian. Jika memungkinkan dan sesuai dengan desain penelitian, lakukan uji coba terbatas untuk mengetahui apakah pertanyaan mudah dipahami dan urutannya nyaman diikuti.
Gunakan hasil penelaahan atau uji coba untuk memperbaiki pertanyaan yang membingungkan, berulang, atau tidak relevan.
Berikut contoh sederhana untuk penelitian berjudul “Pengalaman Mahasiswa dalam Menggunakan Pembelajaran Daring.”
| Tujuan atau Fokus | Aspek yang Digali | Contoh Pertanyaan |
|---|---|---|
| Memahami pengalaman mahasiswa | Pengalaman mengikuti pembelajaran | “Bagaimana pengalaman Anda mengikuti pembelajaran daring?” |
| Mengidentifikasi kendala | Hambatan selama pembelajaran | “Kendala apa yang paling sering Anda alami?” |
| Memahami strategi mahasiswa | Cara mengatasi kendala | “Apa yang biasanya Anda lakukan ketika menghadapi kendala tersebut?” |
| Menggali penilaian mahasiswa | Hal yang membantu proses belajar | “Hal apa yang paling membantu Anda memahami materi secara daring?” |
Tabel ini merupakan ilustrasi format, bukan pedoman baku yang otomatis sesuai untuk semua penelitian. Pertanyaan perlu disesuaikan dengan rumusan masalah, fokus, informan, dan teori yang digunakan.
Berikut contoh susunan pedoman wawancara yang dapat dijadikan referensi awal.
Judul Penelitian: Pengalaman Mahasiswa dalam Menggunakan Pembelajaran Daring
Tujuan Wawancara: Menggali pengalaman, kendala, dan strategi mahasiswa selama mengikuti pembelajaran daring.
Informan: Mahasiswa yang memiliki pengalaman mengikuti pembelajaran daring.
Jenis Wawancara: Semi-terstruktur.
Contoh ini perlu disesuaikan dengan fokus penelitian dan kriteria informan. Peneliti dapat menambahkan pertanyaan lanjutan berdasarkan jawaban informan, selama pertanyaan tersebut tetap relevan dan tidak mengarahkan.
Pertanyaan wawancara yang baik memiliki beberapa ciri berikut.
Gunakan bahasa yang sesuai dengan latar belakang informan. Hindari istilah akademik yang tidak diperlukan atau jelaskan istilah tersebut jika memang penting.
Pertanyaan terbuka memungkinkan informan menjelaskan pengalaman, pandangan, atau alasan dengan lebih luas. Pertanyaan tertutup dapat digunakan untuk klarifikasi, tetapi sebaiknya tidak mendominasi wawancara yang bertujuan menggali pengalaman.
Jangan membuat pertanyaan yang menyiratkan bahwa satu jawaban lebih benar daripada jawaban lain.
Contoh yang kurang netral:
“Bukankah pembelajaran daring membuat Anda sulit memahami materi?”
Lebih netral:
“Bagaimana pengalaman Anda dalam memahami materi selama pembelajaran daring?”
Hindari pertanyaan yang menggabungkan beberapa hal berbeda dalam satu kalimat. Pertanyaan yang terlalu kompleks dapat membuat informan bingung menentukan bagian mana yang harus dijawab.
Setiap pertanyaan harus memiliki tujuan yang jelas. Jika pertanyaan tidak membantu menjawab rumusan masalah atau menggali fokus penelitian, pertimbangkan untuk menghapusnya.
Beberapa kesalahan yang perlu dihindari antara lain:
Selain menyusun pedoman, peneliti perlu mempersiapkan proses wawancara dengan baik.
AI seperti ChatGPT dapat membantu mahasiswa menyusun draft kisi-kisi, mengembangkan alternatif pertanyaan, atau memeriksa kejelasan bahasa. Namun, AI tidak menggantikan pemahaman peneliti terhadap teori, konteks, dan informan.
Contoh prompt:
“Saya sedang menyusun skripsi dengan judul [masukkan judul penelitian]. Rumusan masalah saya adalah [masukkan rumusan masalah]. Tujuan wawancara saya adalah [masukkan tujuan], dan informan yang akan diwawancarai adalah [jelaskan kriteria informan]. Bantu saya membuat draft kisi-kisi dan pedoman wawancara semi-terstruktur. Susun pertanyaan terbuka, jelas, netral, dan sesuai dengan fokus penelitian. Jelaskan tujuan setiap pertanyaan. Jangan membuat referensi fiktif dan tandai bagian yang perlu saya verifikasi.”
Gunakan hasil AI sebagai bahan awal. Periksa kembali kesesuaian pertanyaan dengan rumusan masalah, teori, karakteristik informan, serta pedoman akademik kampus. Jangan memasukkan informasi pribadi atau rahasia informan ke dalam alat AI tanpa memastikan bahwa penggunaannya sesuai dengan ketentuan etika dan privasi.
Judul, rumusan masalah, dan tujuan penelitian sudah dipahami.
Tujuan wawancara sudah ditentukan.
Informan dipilih berdasarkan kriteria yang relevan.
Fokus atau aspek yang akan digali sudah dirumuskan.
Kisi-kisi pedoman wawancara sudah dibuat.
Pertanyaan sesuai dengan fokus penelitian.
Bahasa pertanyaan jelas, netral, dan mudah dipahami.
Urutan pertanyaan disusun secara logis.
Pertanyaan lanjutan disiapkan jika diperlukan.
Prosedur persetujuan dan kerahasiaan informan sudah diperhatikan.
Pedoman telah ditelaah atau diuji coba jika sesuai.
Peralatan dan cara dokumentasi wawancara sudah dipersiapkan.
Cara membuat pedoman wawancara dimulai dengan memahami judul, rumusan masalah, dan tujuan penelitian. Setelah itu, peneliti menentukan informan, merumuskan fokus yang akan digali, menyusun kisi-kisi, lalu membuat pertanyaan yang jelas, netral, dan relevan.
Pedoman wawancara dapat digunakan dalam wawancara terstruktur, semi-terstruktur, maupun tidak terstruktur. Bentuk pedoman harus disesuaikan dengan tujuan dan desain penelitian. Untuk wawancara semi-terstruktur, peneliti dapat menyiapkan pertanyaan inti sekaligus pertanyaan lanjutan agar informasi yang diperoleh lebih mendalam.
Sebelum digunakan, periksa kembali kesesuaian pertanyaan dengan fokus penelitian, karakteristik informan, dan ketentuan etika. Pedoman yang baik bukan yang memiliki pertanyaan paling banyak, melainkan yang membantu peneliti memperoleh informasi yang dibutuhkan secara terarah dan bertanggung jawab.
Masih bingung menentukan fokus penelitian, menyusun pertanyaan wawancara, membuat kisi-kisi, atau menyiapkan Bab 3?
Molulus.id menyediakan ebook dan kumpulan prompt AI yang dapat membantu mahasiswa menggunakan AI secara lebih terarah untuk kebutuhan skripsi.
Pelajari panduan dan prompt AI melalui:
Website: molulus.id
WhatsApp: 085179917579
Gunakan AI sebagai alat bantu untuk mencari ide, menyusun draft, dan memahami materi skripsi. Tetap verifikasi teori, sumber, data, dan aturan akademik sebelum memasukkannya ke dalam naskah akhir.