Salin URL

Cara Menemukan Research Gap dari Jurnal

Cara Menemukan Research Gap dari Jurnal untuk Skripsi

Salah satu tantangan terbesar dalam menyusun skripsi adalah menentukan research gap. Banyak mahasiswa sudah memiliki topik penelitian, tetapi masih bingung ketika dosen bertanya, “Apa gap dari penelitian kamu?” atau “Apa yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya?”

Padahal, research gap merupakan salah satu bagian penting dalam membangun alasan mengapa sebuah penelitian perlu dilakukan. Salah satu sumber terbaik untuk menemukan research gap adalah jurnal penelitian terdahulu.

Dengan membaca dan membandingkan beberapa jurnal, mahasiswa dapat mengetahui apa yang sudah diteliti, bagaimana penelitian tersebut dilakukan, apa hasilnya, serta bagian mana yang masih dapat dikembangkan.

Lalu, bagaimana cara menemukan research gap dari jurnal?

Artikel ini akan membahas langkah-langkahnya secara lengkap, mulai dari mencari jurnal yang relevan, membaca bagian penting jurnal, membuat tabel penelitian terdahulu, sampai menentukan research gap yang dapat digunakan sebagai dasar penelitian skripsi.

Apa Itu Research Gap?

Research gap adalah celah atau bagian yang masih belum terjawab secara memadai dalam penelitian-penelitian sebelumnya.

Research gap tidak selalu berarti penelitian sebelumnya salah. Sebaliknya, research gap menunjukkan adanya aspek tertentu yang masih dapat diteliti, dikembangkan, dibandingkan, atau diuji kembali.

Misalnya, terdapat beberapa penelitian yang membahas pengaruh media sosial terhadap keputusan pembelian. Namun, sebagian besar penelitian dilakukan pada konsumen dewasa.

Jika penelitian mengenai topik tersebut pada kelompok Generasi Z masih terbatas, maka karakteristik responden dapat menjadi salah satu celah penelitian.

Research gap juga dapat muncul dari perbedaan:

  • Variabel penelitian.
  • Objek penelitian.
  • Lokasi penelitian.
  • Karakteristik responden.
  • Metode penelitian.
  • Periode penelitian.
  • Teori yang digunakan.
  • Hasil penelitian.
  • Konteks penelitian.
  • Instrumen atau teknik analisis.

Oleh karena itu, menemukan research gap membutuhkan proses membaca dan membandingkan penelitian terdahulu, bukan hanya mencari satu jurnal yang memiliki judul serupa.

Mengapa Research Gap Penting dalam Skripsi?

Research gap membantu menjelaskan alasan mengapa penelitian perlu dilakukan.

Tanpa research gap yang jelas, penelitian dapat terlihat seperti sekadar mengulang penelitian yang sudah pernah dilakukan.

Research gap juga dapat membantu mahasiswa menentukan arah penelitian. Setelah mengetahui bagian yang belum banyak diteliti, mahasiswa dapat menyusun pertanyaan penelitian, menentukan variabel, memilih objek, hingga menentukan metode penelitian yang lebih tepat.

Dalam proses bimbingan skripsi, research gap juga sering menjadi salah satu hal yang ditanyakan dosen.

Karena itu, mahasiswa sebaiknya tidak hanya mengumpulkan jurnal, tetapi memahami hubungan antara satu penelitian dengan penelitian lainnya.

Cara Menemukan Research Gap dari Jurnal

Berikut langkah praktis yang dapat dilakukan untuk menemukan research gap dari jurnal.

1. Tentukan Topik Penelitian

Langkah pertama adalah menentukan topik yang ingin diteliti.

Misalnya kamu tertarik dengan topik:

“Pengaruh Social Media Marketing terhadap Keputusan Pembelian.”

Dari topik tersebut, kamu dapat menentukan beberapa kata kunci pencarian seperti:

  • Social media marketing.
  • Keputusan pembelian.
  • Social media marketing dan purchase decision.
  • Digital marketing dan keputusan pembelian.
  • Social media terhadap perilaku konsumen.

Jangan hanya menggunakan satu kata kunci. Cobalah beberapa kombinasi agar mendapatkan penelitian yang lebih beragam.

2. Cari Jurnal yang Relevan

Setelah menentukan kata kunci, carilah jurnal yang berhubungan dengan topik.

Pilih jurnal berdasarkan relevansi, bukan hanya berdasarkan kemiripan judul.

Misalnya judul penelitian kamu membahas social media marketing dan keputusan pembelian. Jurnal yang membahas digital marketing, content marketing, influencer marketing, atau perilaku konsumen mungkin juga relevan untuk dibandingkan.

Namun, kamu tetap harus membaca isi penelitian untuk memastikan hubungan tersebut.

3. Baca Abstrak Terlebih Dahulu

Abstrak dapat digunakan sebagai tahap awal untuk menyeleksi jurnal.

Dari abstrak, biasanya kamu dapat mengetahui:

  • Tujuan penelitian.
  • Variabel yang digunakan.
  • Metode penelitian.
  • Objek penelitian.
  • Hasil penelitian.

Jika isi abstrak sangat jauh dari topik penelitian, kamu dapat mencari jurnal lain.

Namun, jangan menjadikan abstrak sebagai satu-satunya sumber untuk menentukan research gap. Setelah jurnal dianggap relevan, baca bagian-bagian lainnya.

4. Perhatikan Bagian Pendahuluan

Bagian pendahuluan jurnal dapat memberikan banyak informasi mengenai permasalahan penelitian.

Perhatikan bagaimana peneliti menjelaskan:

  • Fenomena yang terjadi.
  • Permasalahan penelitian.
  • Kondisi penelitian sebelumnya.
  • Alasan penelitian dilakukan.
  • Keterbatasan penelitian terdahulu.

Bagian tersebut dapat membantu kamu memahami konteks penelitian.

5. Baca Literature Review atau Penelitian Terdahulu

Bagian tinjauan pustaka merupakan salah satu bagian penting untuk menemukan research gap.

Perhatikan penelitian apa saja yang digunakan oleh penulis jurnal.

Catat:

  • Siapa penelitinya.
  • Tahun penelitian.
  • Variabel.
  • Objek.
  • Metode.
  • Sampel.
  • Hasil penelitian.

Setelah membaca beberapa jurnal, kamu dapat mulai membandingkan hasil penelitian satu dengan lainnya.

6. Perhatikan Hasil Penelitian

Hasil penelitian dapat menunjukkan apakah sebuah variabel memiliki pengaruh atau tidak.

Misalnya:

  • Penelitian A menemukan bahwa kualitas pelayanan berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan.
  • Penelitian B menemukan bahwa kualitas pelayanan tidak berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan.

Perbedaan hasil tersebut dapat menjadi indikasi adanya empirical gap.

Namun, jangan langsung menyimpulkan bahwa kedua penelitian bertentangan tanpa memeriksa konteksnya.

Perbedaan hasil bisa terjadi karena perbedaan objek, karakteristik responden, lokasi, periode, metode, atau instrumen penelitian.

7. Baca Bagian Keterbatasan Penelitian

Ini merupakan salah satu cara paling praktis untuk menemukan research gap dari jurnal.

Cari bagian yang biasanya berjudul:

  • Limitations.
  • Research limitations.
  • Keterbatasan penelitian.
  • Limitasi penelitian.
  • Saran untuk penelitian selanjutnya.
  • Future research.

Peneliti sering menyebutkan aspek yang belum dapat diteliti dalam penelitian mereka.

Misalnya peneliti menuliskan bahwa penelitian hanya dilakukan pada satu wilayah dan menyarankan penelitian berikutnya menggunakan wilayah berbeda.

Hal tersebut dapat menjadi ide untuk penelitian selanjutnya.

8. Perhatikan Saran Penelitian Selanjutnya

Selain keterbatasan, bagian future research juga sangat berguna.

Contohnya, peneliti menyarankan:

penelitian selanjutnya dapat menambahkan variabel lain.

Jika kamu menemukan beberapa jurnal yang memberikan saran serupa, hal tersebut dapat menjadi petunjuk adanya ruang penelitian yang masih terbuka.

Namun, saran tersebut tidak harus langsung digunakan sebagai judul skripsi. Kamu tetap perlu mengecek relevansi, teori, data, dan kondisi penelitian yang ingin dilakukan.

Jenis-Jenis Research Gap yang Bisa Ditemukan

Research gap memiliki beberapa bentuk. Memahami jenisnya akan membantu mahasiswa ketika membaca jurnal.

1. Empirical Gap

Empirical gap muncul ketika terdapat perbedaan hasil penelitian.

Contohnya, penelitian pertama menemukan bahwa promosi berpengaruh terhadap keputusan pembelian, sedangkan penelitian kedua tidak menemukan pengaruh yang signifikan.

Perbedaan tersebut dapat menjadi dasar untuk melakukan pengujian lebih lanjut.

2. Population Gap

Population gap terjadi ketika penelitian sebelumnya menggunakan karakteristik populasi tertentu, sementara kelompok lain belum banyak diteliti.

Contohnya penelitian sebelumnya menggunakan mahasiswa sebagai responden, sedangkan penelitian baru menggunakan pekerja muda.

3. Contextual Gap

Contextual gap berkaitan dengan konteks atau lingkungan penelitian.

Misalnya, sebagian besar penelitian dilakukan pada perusahaan besar, sedangkan penelitian pada UMKM dalam konteks yang sama masih terbatas.

4. Methodological Gap

Methodological gap muncul ketika penelitian sebelumnya menggunakan metode tertentu dan masih terdapat peluang menggunakan pendekatan lain.

Contohnya, mayoritas penelitian menggunakan metode kuantitatif, sedangkan aspek pengalaman konsumen belum banyak dikaji secara kualitatif.

5. Theoretical Gap

Theoretical gap terjadi ketika terdapat teori atau perspektif tertentu yang belum banyak digunakan untuk menjelaskan sebuah fenomena.

Jenis gap ini biasanya membutuhkan pemahaman teori yang lebih mendalam.

6. Variable Gap

Variable gap terjadi ketika penelitian sebelumnya belum memasukkan variabel tertentu yang secara teoritis relevan.

Misalnya penelitian sebelumnya hanya membahas kualitas produk dan keputusan pembelian, sementara variabel kepercayaan konsumen belum dimasukkan.

Contoh Menemukan Research Gap dari Beberapa Jurnal

Misalnya kamu ingin meneliti:

“Pengaruh Content Marketing terhadap Keputusan Pembelian Produk Fashion.”

Kemudian kamu menemukan beberapa penelitian:

PenelitianVariabelObjekHasil
Penelitian AContent Marketing → Keputusan PembelianProduk FashionBerpengaruh
Penelitian BContent Marketing → Minat BeliProduk KosmetikBerpengaruh
Penelitian CContent Marketing → Keputusan PembelianProduk MakananTidak berpengaruh
Penelitian DSocial Media Marketing → Keputusan PembelianGenerasi ZBerpengaruh

Dari tabel tersebut, kamu dapat melihat beberapa kemungkinan gap.

Pertama, terdapat perbedaan hasil antara penelitian A dan C.

Kedua, objek penelitian berbeda-beda.

Ketiga, terdapat penelitian yang membahas minat beli dan keputusan pembelian.

Keempat, penelitian dengan konteks produk fashion dan karakteristik konsumen tertentu mungkin masih dapat dikembangkan.

Dari sini, mahasiswa dapat melakukan analisis lebih lanjut untuk menentukan gap yang benar-benar kuat dan relevan.

Buat Tabel Penelitian Terdahulu

Salah satu cara paling efektif untuk menemukan research gap adalah membuat tabel penelitian terdahulu.

Format sederhananya dapat berupa:

NoPeneliti & TahunJudulVariabelMetodeHasilGap
1Peneliti A (2023)Judul Penelitian AX dan YKuantitatifBerpengaruhObjek berbeda
2Peneliti B (2024)Judul Penelitian BX dan YKuantitatifTidak berpengaruhHasil berbeda
3Peneliti C (2024)Judul Penelitian CX, Y, ZKualitatifTerdapat hubunganVariabel berbeda

Tabel tersebut membantu kamu melihat pola dari beberapa penelitian sekaligus.

Semakin banyak penelitian yang relevan dibandingkan, semakin mudah melihat persamaan dan perbedaannya.

Cara Menulis Research Gap dalam Latar Belakang

Setelah menemukan gap, langkah selanjutnya adalah memasukkannya ke dalam latar belakang skripsi.

Jangan hanya menulis:

“Penelitian sebelumnya masih sedikit.”

Kalimat tersebut terlalu umum.

Lebih baik jelaskan penelitian sebelumnya dan bagian yang belum diteliti.

Contohnya:

“Berdasarkan penelitian terdahulu, terdapat hasil yang belum konsisten mengenai pengaruh content marketing terhadap keputusan pembelian. Beberapa penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif, sedangkan penelitian lainnya menunjukkan hasil yang berbeda. Selain itu, sebagian penelitian masih berfokus pada objek tertentu sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut pada konteks objek yang berbeda.”

Kemudian hubungkan gap tersebut dengan penelitian yang akan dilakukan.

Dengan begitu, alasan penelitian menjadi lebih jelas dan logis.

Kesalahan Saat Mencari Research Gap

Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan mahasiswa.

Menganggap Judul yang Berbeda sebagai Research Gap

Judul berbeda belum tentu berarti research gap.

Dua penelitian dapat memiliki judul berbeda tetapi menggunakan variabel, objek, metode, dan konteks yang hampir sama.

Hanya Menggunakan Satu Jurnal

Research gap biasanya lebih mudah ditemukan melalui perbandingan beberapa penelitian.

Mengarang Research Gap

Jangan membuat gap hanya agar penelitian terlihat berbeda.

Research gap harus didasarkan pada hasil pembacaan terhadap penelitian sebelumnya.

Tidak Membaca Bagian Limitasi

Padahal bagian keterbatasan dan saran penelitian sering memberikan petunjuk penting.

Tidak Memeriksa Sumber Asli

Pastikan informasi yang digunakan benar-benar berasal dari jurnal yang dapat diverifikasi.

Gunakan AI untuk Membantu Menganalisis Jurnal

AI dapat membantu mahasiswa mengorganisasi informasi dari jurnal yang sudah mereka miliki.

Misalnya, mahasiswa dapat memberikan informasi penelitian kepada AI dan meminta bantuan membuat matriks perbandingan berdasarkan:

  • Variabel.
  • Metode.
  • Objek.
  • Sampel.
  • Hasil.
  • Keterbatasan.
  • Saran penelitian selanjutnya.

Contoh prompt:

“Saya memiliki beberapa ringkasan penelitian terdahulu berikut. Tolong bantu bandingkan persamaan dan perbedaannya berdasarkan variabel, objek, metode, hasil, dan keterbatasan. Setelah itu, bantu identifikasi kemungkinan research gap yang dapat diteliti lebih lanjut. Jangan membuat sumber atau informasi yang tidak terdapat dalam data yang saya berikan.”

Prompt tersebut dapat membantu proses analisis menjadi lebih terarah.

Namun, mahasiswa tetap harus membaca jurnal asli dan melakukan verifikasi. AI tidak boleh dijadikan sumber utama untuk menggantikan jurnal.

Butuh Panduan Menggunakan AI untuk Skripsi?

Menemukan research gap memang membutuhkan ketelitian. Kamu tidak hanya perlu mencari jurnal, tetapi juga membaca, memahami, membandingkan, dan menganalisis penelitian sebelumnya.

Jika kamu ingin memanfaatkan AI untuk membantu proses penyusunan skripsi secara lebih terarah, Molulus.id menyediakan panduan dan template prompt AI yang dapat digunakan untuk membantu berbagai tahapan pengerjaan skripsi.

Mulai dari mencari ide penelitian, mengembangkan topik, menyusun latar belakang, memahami penelitian terdahulu, hingga membantu proses persiapan skripsi.

Jangan biarkan proses mencari research gap membuat pengerjaan skripsimu berhenti.

👉 Order panduan di website: molulus.id
👉 Order melalui WhatsApp: 085179917579

Gunakan AI sebagai alat bantu untuk mempercepat proses berpikir dan mengorganisasi informasi, bukan untuk menggantikan proses membaca jurnal dan melakukan verifikasi akademik.