Menentukan research gap menjadi salah satu tahap yang sering membuat mahasiswa bingung ketika mulai menyusun skripsi. Sudah membaca banyak jurnal, sudah menentukan topik penelitian, bahkan mungkin sudah memiliki judul, tetapi masih belum tahu sebenarnya apa yang menjadi celah penelitian.
Padahal, research gap sangat penting untuk menunjukkan alasan mengapa sebuah penelitian perlu dilakukan. Dengan menemukan research gap yang tepat, mahasiswa dapat menjelaskan perbedaan penelitiannya dengan penelitian terdahulu secara lebih jelas.
Secara sederhana, research gap adalah celah, perbedaan, keterbatasan, atau bagian yang masih belum terjawab dalam penelitian terdahulu dan dapat dikembangkan melalui penelitian baru.
Research gap tidak selalu berarti menemukan sesuatu yang benar-benar belum pernah diteliti. Kamu bisa menemukan research gap dari hasil penelitian yang berbeda, objek yang berbeda, metode yang berbeda, teori yang belum digunakan, atau fenomena baru yang belum banyak dibahas.
Lalu, bagaimana cara menemukan research gap dengan mudah tanpa harus membaca ratusan jurnal secara keseluruhan?
Artikel ini akan membahas langkah-langkah praktis yang bisa kamu gunakan saat mencari research gap untuk skripsi.
Sebelum membahas cara menemukannya, kamu perlu memahami pengertian research gap terlebih dahulu.
Research gap merupakan bagian dari suatu topik penelitian yang masih memiliki pertanyaan, keterbatasan, perbedaan hasil, atau ruang untuk dikembangkan.
Misalnya, kamu menemukan beberapa penelitian tentang pengaruh media sosial terhadap keputusan pembelian.
Penelitian pertama menemukan bahwa media sosial berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian. Namun, penelitian kedua justru menemukan bahwa pengaruh tersebut tidak signifikan.
Perbedaan hasil tersebut dapat menjadi salah satu research gap.
Kamu kemudian dapat mempertanyakan:
Mengapa hasil penelitian tersebut berbeda?
Dari pertanyaan tersebut, kamu bisa mempertimbangkan penelitian baru dengan objek, lokasi, variabel, atau kondisi tertentu.
Jadi, research gap bukan sekadar mencari topik yang belum pernah diteliti. Yang lebih penting adalah menemukan bagian yang masih membutuhkan penjelasan.
Research gap memiliki beberapa fungsi penting dalam penelitian.
Research gap membantu menjawab pertanyaan:
“Mengapa penelitian ini perlu dilakukan?”
Ketika celah penelitian sudah ditemukan, kamu akan lebih mudah menentukan fokus penelitian.
Latar belakang skripsi tidak hanya berisi fenomena, tetapi juga perlu menunjukkan permasalahan akademis yang mendukung penelitian.
Research gap dapat menjadi salah satu dasar dalam menyusun judul skripsi yang lebih spesifik.
Penelitian baru diharapkan dapat memberikan tambahan pemahaman terhadap topik yang sudah diteliti sebelumnya.
Berikut beberapa langkah yang bisa kamu ikuti.
Jangan langsung mencari research gap tanpa mengetahui topik yang ingin dibahas.
Tentukan satu bidang yang menarik dan sesuai dengan jurusanmu.
Contohnya:
Tidak perlu langsung menentukan judul final.
Misalnya kamu tertarik dengan topik:
Penggunaan media sosial dalam pemasaran UMKM.
Topik tersebut sudah cukup sebagai titik awal untuk mencari penelitian terdahulu.
Setelah menentukan topik, buat beberapa kata kunci.
Misalnya topiknya adalah digital marketing UMKM.
Kamu bisa menggunakan kata kunci seperti:
Gunakan beberapa kombinasi kata kunci agar hasil pencarian tidak terlalu sempit.
Langkah berikutnya adalah mencari jurnal penelitian terdahulu.
Kamu bisa memanfaatkan mesin pencari akademik dan database jurnal yang tersedia melalui kampus atau sumber ilmiah lainnya.
Jangan hanya mencari satu atau dua jurnal.
Usahakan menemukan beberapa penelitian yang benar-benar berkaitan dengan topik.
Tujuannya bukan mengumpulkan jurnal sebanyak-banyaknya, tetapi menemukan pola penelitian.
Ini salah satu cara agar proses mencari research gap lebih efisien.
Kamu tidak selalu harus membaca seluruh jurnal secara detail pada tahap awal.
Mulailah dengan melihat:
Bagian-bagian tersebut dapat memberikan gambaran awal mengenai penelitian.
Setelah menemukan jurnal yang sangat relevan, barulah baca secara lebih mendalam.
Bagian keterbatasan penelitian merupakan salah satu tempat yang sangat berguna ketika mencari research gap.
Peneliti biasanya menjelaskan keterbatasan penelitian yang sudah dilakukan.
Misalnya:
Penelitian hanya dilakukan pada satu wilayah.
Atau:
Penelitian hanya menggunakan satu kelompok responden.
Atau:
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif sehingga belum menggali pengalaman responden secara mendalam.
Hal tersebut dapat menjadi peluang untuk penelitian berikutnya.
Namun, jangan langsung menganggap setiap keterbatasan sebagai research gap. Pastikan keterbatasan tersebut memang relevan dengan penelitian yang ingin kamu lakukan.
Selain limitations, perhatikan juga bagian future research atau saran untuk penelitian selanjutnya.
Peneliti terkadang memberikan rekomendasi seperti:
Saran tersebut bisa menjadi petunjuk awal untuk menemukan research gap.
Jangan hanya membaca penelitian secara terpisah.
Bandingkan penelitian satu dengan penelitian lainnya.
Misalnya:
| Penelitian | Objek | Metode | Hasil |
|---|---|---|---|
| A | Konsumen | Kuantitatif | Berpengaruh |
| B | Konsumen | Kuantitatif | Tidak signifikan |
| C | UMKM | Kualitatif | Menemukan strategi tertentu |
Dari tabel tersebut, kamu bisa melihat adanya perbedaan hasil dan metode.
Perbandingan seperti ini akan membuat research gap lebih mudah terlihat.
Salah satu research gap yang cukup mudah ditemukan adalah perbedaan hasil penelitian.
Misalnya:
Penelitian A: Kualitas pelayanan berpengaruh terhadap kepuasan masyarakat.
Penelitian B: Kualitas pelayanan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasan masyarakat.
Jika hasil penelitian berbeda, kamu dapat mencari tahu faktor yang mungkin menyebabkan perbedaan tersebut.
Kemudian, penelitian baru dapat diarahkan untuk menguji fenomena tersebut dalam konteks tertentu.
Research gap juga bisa ditemukan dari objek penelitian.
Misalnya sebagian besar penelitian sebelumnya dilakukan pada perusahaan besar.
Sementara fenomena yang ingin kamu teliti terjadi pada UMKM.
Perbedaan objek tersebut dapat menjadi dasar penelitian baru jika karakteristik objek memang memiliki alasan untuk dikaji.
Contohnya:
Penelitian terdahulu membahas strategi digital marketing perusahaan besar, sedangkan penelitian yang akan dilakukan berfokus pada strategi digital marketing UMKM.
Namun, jangan hanya mengganti objek tanpa alasan. Jelaskan mengapa objek tersebut menarik dan relevan.
Selain objek, konteks penelitian juga dapat menjadi research gap.
Misalnya penelitian sebelumnya dilakukan sebelum adanya perubahan teknologi tertentu, sementara kondisi sekarang sudah berbeda.
Atau penelitian terdahulu dilakukan pada lingkungan perkotaan, sedangkan kamu ingin melihat fenomena di wilayah dengan karakteristik berbeda.
Perbedaan konteks dapat memberikan sudut pandang baru.
Research gap juga bisa muncul dari metode penelitian.
Misalnya penelitian terdahulu menggunakan survei kuantitatif.
Penelitianmu ingin menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggali pengalaman subjek secara lebih mendalam.
Contohnya:
Penelitian sebelumnya mengukur hubungan antara penggunaan media sosial dan keputusan pembelian melalui survei. Penelitian baru dapat mengeksplorasi bagaimana konsumen memaknai penggunaan media sosial dalam proses pengambilan keputusan.
Perbedaan metode tersebut dapat memberikan perspektif yang berbeda.
Dalam penelitian kuantitatif, kamu dapat membandingkan variabel yang digunakan dalam penelitian terdahulu.
Misalnya penelitian sebelumnya hanya menggunakan:
X → Kualitas pelayanan
Y → Kepuasan masyarakat
Kamu menemukan teori atau penelitian yang menunjukkan adanya faktor lain yang relevan.
Misalnya:
X1 → Kualitas pelayanan
X2 → Kemudahan penggunaan
Y → Kepuasan masyarakat
Penambahan variabel harus memiliki dasar teori dan bukan sekadar menambah variabel agar penelitian terlihat lebih kompleks.
Agar cara menemukan research gap dengan mudah menjadi lebih terstruktur, buat tabel khusus.
Kamu bisa menggunakan format:
| No | Peneliti | Tahun | Topik | Objek | Metode | Hasil | Keterbatasan |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Peneliti A | 2024 | Digital Marketing | UMKM | Kuantitatif | Berpengaruh | Sampel terbatas |
| 2 | Peneliti B | 2025 | Social Media | Konsumen | Kuantitatif | Tidak signifikan | Objek tertentu |
| 3 | Peneliti C | 2025 | Digital Marketing | UMKM | Kualitatif | Strategi tertentu | Lokasi terbatas |
Setelah tabel terisi, perhatikan bagian yang berbeda.
Biasanya pola tersebut membantu research gap menjadi lebih mudah ditemukan.
Kalau masih bingung, tanyakan enam pertanyaan berikut kepada setiap jurnal:
Apa yang diteliti?
Siapa yang diteliti?
Di mana penelitian dilakukan?
Bagaimana metode yang digunakan?
Apa hasilnya?
Apa yang belum dibahas?
Pertanyaan terakhir adalah bagian yang paling penting.
Apa yang belum dibahas?
Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa menjadi petunjuk research gap.
Research gap sebaiknya tidak berdiri sendiri.
Hubungkan dengan fenomena yang benar-benar terjadi.
Misalnya:
Fenomena: UMKM semakin banyak menggunakan media sosial untuk pemasaran.
Penelitian terdahulu: Sebagian penelitian membahas perusahaan besar.
Gap: Konteks UMKM masih membutuhkan kajian lebih lanjut.
Arah penelitian: Menganalisis strategi media sosial pada UMKM tertentu.
Dengan alur seperti ini, alasan penelitian menjadi lebih masuk akal.
Misalnya kamu ingin meneliti:
“Pengaruh Social Media Marketing terhadap Keputusan Pembelian Konsumen.”
Setelah membaca beberapa penelitian, kamu menemukan:
Dari sana terdapat beberapa kemungkinan gap:
Terdapat perbedaan hasil penelitian.
Penelitian sebelumnya dilakukan dalam konteks yang berbeda.
Karakteristik responden berbeda.
Kamu tidak harus menggunakan semua gap tersebut. Pilih yang paling relevan dengan tujuan penelitian.
Setelah menemukan gap, kamu perlu menyusunnya dalam bentuk paragraf.
Contohnya:
Penelitian mengenai penggunaan media sosial dalam aktivitas pemasaran telah banyak dilakukan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pemasaran melalui media sosial memiliki hubungan dengan perilaku konsumen. Namun, beberapa penelitian lainnya menunjukkan hasil yang berbeda mengenai pengaruh aktivitas pemasaran tersebut terhadap keputusan pembelian. Selain itu, sebagian penelitian masih berfokus pada perusahaan atau objek dengan karakteristik tertentu. Perbedaan hasil dan konteks tersebut menunjukkan adanya ruang untuk penelitian lebih lanjut dengan objek dan konteks yang lebih spesifik.
Paragraf tersebut merupakan contoh struktur.
Dalam skripsi sebenarnya, kamu harus menggantinya dengan hasil penelitian terdahulu yang benar-benar kamu baca dan sitasi sesuai sumber aslinya.
Research gap dan novelty merupakan dua hal yang berbeda.
Research gap menunjukkan celah yang ditemukan dalam penelitian sebelumnya.
Sementara novelty menunjukkan aspek kebaruan atau kontribusi yang ditawarkan penelitian.
Contoh:
Penelitian sebelumnya menghasilkan temuan yang berbeda mengenai pengaruh media sosial terhadap keputusan pembelian.
Itu merupakan research gap.
Kemudian:
Penelitian ini menguji hubungan tersebut pada objek dan konteks yang berbeda.
Bagian yang menjadi pembeda tersebut dapat menjadi salah satu aspek novelty jika memang memberikan kontribusi yang relevan.
Satu jurnal belum tentu cukup untuk menunjukkan adanya gap.
Abstrak berguna untuk memahami gambaran umum, tetapi belum cukup untuk menemukan gap secara mendalam.
Jangan menyatakan ada perbedaan hasil jika kamu belum membandingkan penelitian yang relevan.
Topik yang sudah banyak diteliti tetap dapat memiliki gap.
Setiap klaim mengenai penelitian terdahulu harus memiliki referensi yang jelas.
Pastikan gap yang ditemukan benar-benar berhubungan dengan fokus penelitian.
Research gap harus berdasarkan literatur dan fenomena, bukan dibuat-buat agar penelitian terlihat berbeda.
Sebelum menyatakan sudah menemukan research gap, coba cek:
Jika semua poin tersebut sudah diperiksa, kamu akan lebih siap menjelaskan research gap kepada dosen.
Jangan langsung membuka puluhan jurnal sekaligus.
Mulailah dari beberapa jurnal yang paling dekat dengan topik.
Kemudian buat tabel penelitian terdahulu. Catat informasi penting secara konsisten.
Misalnya:
Penelitian → Metode → Objek → Hasil → Keterbatasan → Gap
Setelah beberapa jurnal dibandingkan, biasanya pola akan mulai terlihat.
Selain itu, jangan hanya mengejar jumlah jurnal. Lebih baik memiliki beberapa sumber yang benar-benar relevan dan dipahami daripada puluhan jurnal tetapi tidak tahu hubungan antarpenelitiannya.
Cara menemukan research gap dengan mudah sebenarnya dapat dilakukan secara bertahap. Kamu tidak perlu langsung membaca ratusan jurnal atau mencari topik yang belum pernah diteliti sama sekali.
Mulailah dengan menentukan topik, membuat kata kunci pencarian, mencari penelitian terdahulu, membaca bagian penting jurnal, kemudian membandingkan hasil penelitian.
Perhatikan terutama bagian hasil, keterbatasan, dan saran penelitian selanjutnya. Dari sana, kamu dapat menemukan perbedaan hasil, perbedaan objek, perbedaan metode, keterbatasan teori, atau konteks penelitian yang masih dapat dikembangkan.
Setelah menemukan gap, pastikan gap tersebut benar-benar didukung oleh sumber akademis dan relevan dengan penelitian yang ingin dilakukan.
Dengan research gap yang jelas, kamu akan lebih mudah menjelaskan mengapa penelitian tersebut penting dilakukan, menentukan fokus penelitian, menyusun latar belakang, serta mengembangkan judul skripsi yang lebih spesifik.
Yang paling penting, jangan membuat research gap hanya berdasarkan asumsi. Baca, bandingkan, catat, lalu simpulkan. Itulah cara paling aman untuk menemukan research gap yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.
Sudah membaca banyak jurnal tetapi masih bingung menentukan bagian mana yang bisa dijadikan research gap? Atau sudah punya topik tetapi belum tahu bagaimana menghubungkannya dengan penelitian terdahulu?
Molulus.id siap membantu kebutuhan skripsimu agar proses penyusunan penelitian menjadi lebih terarah.
Kamu bisa melakukan order melalui website Molulus.id atau menghubungi WhatsApp:
Mulai dari menemukan ide, menentukan fokus penelitian, mencari referensi, sampai mempersiapkan kebutuhan skripsi, pastikan setiap tahapnya dilakukan berdasarkan kebutuhan penelitianmu.
Sudah punya beberapa jurnal? Yuk, temukan research gap yang lebih jelas bersama Molulus.id.