Salah satu bagian penting dalam Bab 1 skripsi yang sering membuat mahasiswa bingung adalah identifikasi masalah. Setelah menyusun latar belakang yang cukup panjang, mahasiswa biasanya masih bertanya-tanya: “Bagaimana cara menulis identifikasi masalah?”
Identifikasi masalah sebenarnya tidak harus rumit. Bagian ini dibuat untuk merangkum berbagai permasalahan yang ditemukan dari uraian latar belakang. Dengan kata lain, identifikasi masalah menjadi penghubung antara latar belakang dengan rumusan masalah.
Identifikasi masalah yang baik harus berasal dari kondisi nyata, data, fenomena, atau kesenjangan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Oleh karena itu, mahasiswa tidak sebaiknya membuat identifikasi masalah secara tiba-tiba tanpa hubungan dengan latar belakang.
Artikel ini akan membahas cara menulis identifikasi masalah skripsi, struktur yang dapat digunakan, contoh identifikasi masalah, kesalahan yang perlu dihindari, hingga cara memanfaatkan AI untuk membantu menyusunnya.
Identifikasi masalah adalah bagian dari skripsi yang berisi daftar atau uraian mengenai berbagai masalah yang ditemukan berdasarkan fenomena dan latar belakang penelitian.
Sederhananya, jika latar belakang menjelaskan “cerita dan kondisi yang melatarbelakangi penelitian”, maka identifikasi masalah berfungsi untuk menunjukkan:
“Masalah apa saja yang dapat ditemukan dari kondisi tersebut?”
Misalnya penelitian membahas kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan.
Dalam latar belakang dijelaskan bahwa perusahaan mengalami peningkatan jumlah keluhan pelanggan, adanya keterlambatan pelayanan, serta penurunan tingkat kepuasan.
Dari uraian tersebut, identifikasi masalah dapat dibuat seperti:
Dengan demikian, identifikasi masalah membantu membuat permasalahan penelitian menjadi lebih terarah.
Sebelum mengetahui cara menulis identifikasi masalah, penting untuk memahami fungsinya.
Identifikasi masalah membantu pembaca mengetahui masalah apa yang menjadi perhatian penelitian.
Sebuah fenomena dapat memiliki banyak masalah. Identifikasi masalah membantu peneliti menentukan masalah yang relevan dengan penelitian.
Rumusan masalah biasanya dikembangkan dari masalah yang sudah diidentifikasi sebelumnya.
Identifikasi masalah membantu peneliti agar pembahasan tidak terlalu luas.
Identifikasi masalah yang baik harus dapat ditelusuri kembali ke pembahasan pada latar belakang.
Berikut langkah-langkah yang dapat digunakan mahasiswa.
Langkah pertama adalah membaca kembali latar belakang skripsi dari awal sampai akhir.
Jangan langsung membuat identifikasi masalah berdasarkan ingatan.
Tandai bagian yang menunjukkan:
Bagian-bagian tersebut merupakan sumber utama untuk membuat identifikasi masalah.
Setelah membaca latar belakang, tentukan masalah utama penelitian.
Misalnya judul:
“Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Kepuasan Pelanggan pada Cafe X.”
Masalah utamanya adalah adanya kondisi pelayanan yang belum sesuai dengan harapan pelanggan dan kemungkinan hubungannya dengan kepuasan pelanggan.
Jangan langsung memasukkan semua masalah yang ditemukan.
Pilih masalah yang memang berkaitan dengan tujuan penelitian.
Identifikasi masalah sebaiknya didasarkan pada fakta atau kondisi yang dapat dijelaskan.
Contohnya:
Kurang tepat:
Pelanggan pasti tidak puas dengan pelayanan Cafe X.
Kalimat tersebut terlalu menyimpulkan sesuatu tanpa bukti.
Lebih baik:
Masih terdapat keluhan pelanggan mengenai kecepatan pelayanan di Cafe X.
Kalimat kedua lebih objektif karena menunjukkan masalah yang dapat diteliti.
Jika latar belakang memiliki data, gunakan data tersebut sebagai dasar identifikasi masalah.
Misalnya terdapat data yang menunjukkan peningkatan jumlah komplain.
Identifikasi masalah dapat ditulis:
Jumlah keluhan pelanggan terkait waktu pelayanan mengalami peningkatan dalam beberapa periode terakhir.
Namun, pastikan data tersebut benar-benar tersedia dan dapat diverifikasi.
Jangan membuat angka sendiri hanya agar identifikasi masalah terlihat lebih kuat.
Untuk penelitian kuantitatif, identifikasi masalah sebaiknya diarahkan kepada variabel yang digunakan.
Misalnya:
Variabel X: Kualitas Pelayanan
Variabel Y: Kepuasan Pelanggan
Maka identifikasi masalah harus memiliki hubungan dengan kedua variabel tersebut.
Contohnya:
Dengan demikian, identifikasi masalah sudah mengarah kepada fokus penelitian.
Tidak ada satu format yang wajib digunakan oleh semua perguruan tinggi. Selalu sesuaikan dengan pedoman penulisan skripsi dan arahan dosen pembimbing.
Namun, secara umum identifikasi masalah dapat disusun dalam bentuk poin.
Strukturnya dapat berupa:
Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan, maka dapat diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut:
Format tersebut sederhana tetapi cukup efektif untuk membuat masalah penelitian lebih jelas.
Agar lebih mudah dipahami, berikut beberapa contoh berdasarkan bidang penelitian.
Judul:
“Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Kepuasan Pelanggan pada Cafe X”
Identifikasi Masalah:
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, dapat diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut:
Perhatikan bahwa setiap poin masih berhubungan dengan judul dan variabel penelitian.
Judul:
“Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Digital terhadap Motivasi Belajar Siswa”
Identifikasi Masalah:
Judul:
“Pengaruh Social Media Marketing terhadap Keputusan Pembelian Produk Fashion”
Identifikasi Masalah:
Judul:
“Pengaruh Pemahaman Akuntansi terhadap Kualitas Penyusunan Laporan Keuangan UMKM”
Identifikasi Masalah:
Judul:
“Pengaruh Kemudahan Penggunaan Aplikasi terhadap Kepuasan Pengguna”
Identifikasi Masalah:
Tidak ada jumlah yang mutlak untuk semua penelitian.
Jumlah identifikasi masalah harus menyesuaikan:
Sebagai gambaran, mahasiswa dapat memiliki beberapa poin identifikasi masalah yang kemudian dipersempit menjadi rumusan masalah.
Jangan membuat terlalu banyak poin hanya untuk membuat halaman terlihat panjang.
Yang terpenting adalah setiap poin relevan, jelas, dan dapat diteliti.
Bagian ini sering membuat mahasiswa tertukar.
Berisi berbagai masalah yang ditemukan berdasarkan latar belakang.
Contohnya:
Masih terdapat keluhan pelanggan mengenai kualitas pelayanan.
Berisi pertanyaan penelitian yang akan dijawab melalui penelitian.
Contohnya:
Apakah kualitas pelayanan berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan pada Cafe X?
Jadi, secara sederhana:
Identifikasi Masalah = Apa saja masalah yang ditemukan?
Rumusan Masalah = Pertanyaan apa yang ingin dijawab?
Keduanya saling berkaitan, tetapi bukan bagian yang sama.
Ketiga bagian ini sebaiknya memiliki alur yang konsisten.
Urutannya:
Latar Belakang
↓
Menjelaskan fenomena dan kondisi
↓
Identifikasi Masalah
↓
Merangkum masalah yang ditemukan
↓
Rumusan Masalah
↓
Mengubah masalah menjadi pertanyaan penelitian
↓
Tujuan Penelitian
↓
Menjawab rumusan masalah
Jika alurnya konsisten, Bab 1 akan terasa lebih sistematis.
Ini merupakan salah satu kesalahan yang sering terjadi.
Jika sebuah masalah tidak pernah dibahas di latar belakang, jangan tiba-tiba memasukkannya ke identifikasi masalah tanpa dasar.
Contoh:
“Teknologi berkembang dengan sangat pesat.”
Kalimat tersebut merupakan fenomena, bukan identifikasi masalah.
Lebih baik:
“Pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran belum dilakukan secara optimal.”
Identifikasi masalah berisi masalah, bukan solusi.
Contoh yang kurang tepat:
“Perusahaan harus meningkatkan kualitas pelayanan.”
Kalimat tersebut sudah berupa rekomendasi.
Lebih tepat:
“Kualitas pelayanan yang diberikan belum sepenuhnya memenuhi harapan pelanggan.”
Jika judul membahas kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan, jangan memasukkan masalah yang tidak berhubungan seperti strategi investasi perusahaan kecuali memang menjadi bagian penelitian.
Gunakan bahasa akademis dan objektif.
Hindari kata-kata seperti:
Gunakan bahasa yang lebih terukur dan netral.
Berikut beberapa tips yang dapat diterapkan.
Hindari kalimat terlalu umum.
Fokus pada kondisi yang dapat diamati atau dibuktikan.
Setiap masalah sebaiknya memiliki hubungan dengan fenomena, data, observasi, atau referensi.
Terutama pada penelitian kuantitatif, pastikan masalah mengarah pada variabel yang akan dianalisis.
Lebih baik memiliki 4 poin yang relevan daripada 10 poin yang tidak jelas.
Setiap kampus dapat memiliki format penulisan yang berbeda.
Jika sudah memiliki latar belakang tetapi belum memiliki identifikasi masalah, gunakan metode berikut.
Baca setiap paragraf dan tandai kalimat yang menunjukkan masalah.
Masalah yang sama dapat digabungkan.
Tentukan masalah tersebut berkaitan dengan variabel apa.
Tidak semua masalah harus dimasukkan.
Susun dalam bentuk kalimat singkat dan objektif.
Pastikan identifikasi masalah dapat mengarah secara logis kepada rumusan masalah.
AI dapat membantu mahasiswa mengolah latar belakang menjadi daftar masalah yang lebih terstruktur.
Contoh prompt yang dapat digunakan:
“Saya sedang menyusun skripsi dengan judul [judul penelitian]. Berikut adalah latar belakang penelitian saya: [tempelkan latar belakang]. Tolong identifikasi masalah yang benar-benar muncul dari latar belakang tersebut. Susun menjadi 5–7 poin menggunakan bahasa akademis, objektif, spesifik, dan tidak mengandung solusi. Pastikan setiap poin relevan dengan variabel dan objek penelitian. Jangan menambahkan masalah yang tidak terdapat dalam latar belakang.”
Prompt tersebut dapat membantu menghasilkan draft awal.
Setelah itu, mahasiswa tetap perlu memeriksa setiap poin dan menyesuaikannya dengan kondisi penelitian.
AI jangan digunakan untuk mengarang masalah yang sebenarnya tidak terjadi.
Selain membuat identifikasi masalah, AI juga dapat digunakan untuk melakukan pengecekan.
Contohnya:
“Periksa identifikasi masalah berikut berdasarkan judul dan latar belakang penelitian. Tandai poin yang tidak relevan, terlalu umum, mengandung solusi, tidak memiliki dasar dari latar belakang, atau tidak sesuai dengan variabel penelitian. Kemudian berikan saran perbaikannya tanpa membuat data baru.”
Prompt seperti ini dapat membantu mahasiswa melakukan evaluasi awal sebelum berdiskusi dengan dosen pembimbing.
Sebelum memasukkan identifikasi masalah ke Bab 1, lakukan pengecekan berikut:
Jika seluruh poin tersebut sudah terpenuhi, identifikasi masalah akan lebih mudah dikembangkan menjadi bagian berikutnya.
Cara menulis identifikasi masalah skripsi dapat dimulai dengan membaca kembali latar belakang, menemukan masalah utama, mengelompokkan permasalahan yang relevan, menghubungkannya dengan variabel penelitian, kemudian menyusunnya dalam bentuk poin yang spesifik dan objektif.
Identifikasi masalah bukan tempat untuk menulis solusi atau membuat masalah baru. Semua poin sebaiknya memiliki dasar dari fenomena, data, observasi, atau pembahasan yang sudah dijelaskan dalam latar belakang.
Alur sederhananya adalah:
Latar Belakang → Temukan Fenomena → Identifikasi Masalah → Tentukan Fokus → Rumusan Masalah → Tujuan Penelitian.
Dengan memahami alur tersebut, mahasiswa dapat menyusun Bab 1 dengan lebih terarah dan menghindari masalah seperti identifikasi masalah yang terlalu luas, tidak sesuai judul, atau tidak memiliki hubungan dengan rumusan masalah.
AI juga dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mengidentifikasi poin masalah dari latar belakang, mengevaluasi konsistensi, dan memperbaiki bahasa akademis. Namun, mahasiswa tetap perlu memastikan bahwa setiap masalah benar-benar sesuai dengan kondisi penelitian dan arahan dosen pembimbing.
Kalau kamu masih bingung menyusun identifikasi masalah skripsi, membuat rumusan masalah, mencari research gap, atau mengembangkan Bab 1, Molulus.id menyediakan panduan dan template Prompt AI untuk skripsi yang dapat membantu proses pengerjaan skripsi menjadi lebih mudah dan terarah.
Dengan prompt yang tepat, kamu bisa menggunakan AI untuk membantu membuat kerangka, mengevaluasi tulisan, mengembangkan ide, dan memeriksa konsistensi antarbagian skripsi.
Order sekarang melalui website Molulus.id atau WhatsApp 085179917579.
Gunakan AI sebagai alat bantu dalam proses akademik, tetap periksa fakta dan sumber, serta sesuaikan hasilnya dengan pedoman kampus dan arahan dosen pembimbing.
Molulus.id — bantu proses skripsi menjadi lebih mudah, rapi, dan terarah.