Salin URL

Cara Menulis Identifikasi Masalah

Salah satu bagian penting dalam Bab 1 skripsi yang sering membuat mahasiswa bingung adalah identifikasi masalah. Setelah menyusun latar belakang yang cukup panjang, mahasiswa biasanya masih bertanya-tanya: “Bagaimana cara menulis identifikasi masalah?”

Identifikasi masalah sebenarnya tidak harus rumit. Bagian ini dibuat untuk merangkum berbagai permasalahan yang ditemukan dari uraian latar belakang. Dengan kata lain, identifikasi masalah menjadi penghubung antara latar belakang dengan rumusan masalah.

Identifikasi masalah yang baik harus berasal dari kondisi nyata, data, fenomena, atau kesenjangan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Oleh karena itu, mahasiswa tidak sebaiknya membuat identifikasi masalah secara tiba-tiba tanpa hubungan dengan latar belakang.

Artikel ini akan membahas cara menulis identifikasi masalah skripsi, struktur yang dapat digunakan, contoh identifikasi masalah, kesalahan yang perlu dihindari, hingga cara memanfaatkan AI untuk membantu menyusunnya.


Apa Itu Identifikasi Masalah dalam Skripsi?

Identifikasi masalah adalah bagian dari skripsi yang berisi daftar atau uraian mengenai berbagai masalah yang ditemukan berdasarkan fenomena dan latar belakang penelitian.

Sederhananya, jika latar belakang menjelaskan “cerita dan kondisi yang melatarbelakangi penelitian”, maka identifikasi masalah berfungsi untuk menunjukkan:

“Masalah apa saja yang dapat ditemukan dari kondisi tersebut?”

Misalnya penelitian membahas kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan.

Dalam latar belakang dijelaskan bahwa perusahaan mengalami peningkatan jumlah keluhan pelanggan, adanya keterlambatan pelayanan, serta penurunan tingkat kepuasan.

Dari uraian tersebut, identifikasi masalah dapat dibuat seperti:

  1. Masih terdapat keluhan pelanggan terkait kualitas pelayanan.
  2. Waktu pelayanan belum sepenuhnya memenuhi harapan pelanggan.
  3. Tingkat kepuasan pelanggan mengalami perubahan.
  4. Belum diketahui sejauh mana kualitas pelayanan memengaruhi kepuasan pelanggan.

Dengan demikian, identifikasi masalah membantu membuat permasalahan penelitian menjadi lebih terarah.


Fungsi Identifikasi Masalah dalam Skripsi

Sebelum mengetahui cara menulis identifikasi masalah, penting untuk memahami fungsinya.

1. Memperjelas Masalah Penelitian

Identifikasi masalah membantu pembaca mengetahui masalah apa yang menjadi perhatian penelitian.

2. Membatasi Pembahasan

Sebuah fenomena dapat memiliki banyak masalah. Identifikasi masalah membantu peneliti menentukan masalah yang relevan dengan penelitian.

3. Menjadi Dasar Rumusan Masalah

Rumusan masalah biasanya dikembangkan dari masalah yang sudah diidentifikasi sebelumnya.

4. Menentukan Fokus Penelitian

Identifikasi masalah membantu peneliti agar pembahasan tidak terlalu luas.

5. Menunjukkan Hubungan dengan Latar Belakang

Identifikasi masalah yang baik harus dapat ditelusuri kembali ke pembahasan pada latar belakang.


Cara Menulis Identifikasi Masalah yang Benar

Berikut langkah-langkah yang dapat digunakan mahasiswa.

1. Baca Kembali Latar Belakang

Langkah pertama adalah membaca kembali latar belakang skripsi dari awal sampai akhir.

Jangan langsung membuat identifikasi masalah berdasarkan ingatan.

Tandai bagian yang menunjukkan:

  • fenomena;
  • kondisi aktual;
  • data permasalahan;
  • kesenjangan;
  • keluhan;
  • penurunan atau peningkatan tertentu;
  • hasil penelitian terdahulu;
  • atau kondisi yang belum ideal.

Bagian-bagian tersebut merupakan sumber utama untuk membuat identifikasi masalah.


2. Temukan Masalah Utama

Setelah membaca latar belakang, tentukan masalah utama penelitian.

Misalnya judul:

“Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Kepuasan Pelanggan pada Cafe X.”

Masalah utamanya adalah adanya kondisi pelayanan yang belum sesuai dengan harapan pelanggan dan kemungkinan hubungannya dengan kepuasan pelanggan.

Jangan langsung memasukkan semua masalah yang ditemukan.

Pilih masalah yang memang berkaitan dengan tujuan penelitian.


3. Pisahkan Fakta dan Asumsi

Identifikasi masalah sebaiknya didasarkan pada fakta atau kondisi yang dapat dijelaskan.

Contohnya:

Kurang tepat:

Pelanggan pasti tidak puas dengan pelayanan Cafe X.

Kalimat tersebut terlalu menyimpulkan sesuatu tanpa bukti.

Lebih baik:

Masih terdapat keluhan pelanggan mengenai kecepatan pelayanan di Cafe X.

Kalimat kedua lebih objektif karena menunjukkan masalah yang dapat diteliti.


4. Hubungkan dengan Data

Jika latar belakang memiliki data, gunakan data tersebut sebagai dasar identifikasi masalah.

Misalnya terdapat data yang menunjukkan peningkatan jumlah komplain.

Identifikasi masalah dapat ditulis:

Jumlah keluhan pelanggan terkait waktu pelayanan mengalami peningkatan dalam beberapa periode terakhir.

Namun, pastikan data tersebut benar-benar tersedia dan dapat diverifikasi.

Jangan membuat angka sendiri hanya agar identifikasi masalah terlihat lebih kuat.


5. Hubungkan dengan Variabel Penelitian

Untuk penelitian kuantitatif, identifikasi masalah sebaiknya diarahkan kepada variabel yang digunakan.

Misalnya:

Variabel X: Kualitas Pelayanan
Variabel Y: Kepuasan Pelanggan

Maka identifikasi masalah harus memiliki hubungan dengan kedua variabel tersebut.

Contohnya:

  • Kualitas pelayanan belum sepenuhnya memenuhi harapan pelanggan.
  • Masih ditemukan keluhan terkait pelayanan.
  • Tingkat kepuasan pelanggan belum optimal.
  • Belum diketahui pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan.

Dengan demikian, identifikasi masalah sudah mengarah kepada fokus penelitian.


Struktur Identifikasi Masalah Skripsi

Tidak ada satu format yang wajib digunakan oleh semua perguruan tinggi. Selalu sesuaikan dengan pedoman penulisan skripsi dan arahan dosen pembimbing.

Namun, secara umum identifikasi masalah dapat disusun dalam bentuk poin.

Strukturnya dapat berupa:

Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan, maka dapat diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut:

  1. Masalah pertama, menjelaskan kondisi yang belum ideal.
  2. Masalah kedua, menjelaskan fenomena atau permasalahan lainnya.
  3. Masalah ketiga, menjelaskan dampak atau kondisi yang berkaitan.
  4. Masalah keempat, menjelaskan hal yang belum diketahui dan perlu diteliti.

Format tersebut sederhana tetapi cukup efektif untuk membuat masalah penelitian lebih jelas.


Contoh Identifikasi Masalah Skripsi

Agar lebih mudah dipahami, berikut beberapa contoh berdasarkan bidang penelitian.

Contoh 1: Manajemen

Judul:

“Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Kepuasan Pelanggan pada Cafe X”

Identifikasi Masalah:

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, dapat diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut:

  1. Masih terdapat pelanggan yang menyampaikan keluhan terkait kualitas pelayanan.
  2. Kecepatan pelayanan belum sepenuhnya memenuhi harapan pelanggan.
  3. Terdapat perbedaan pengalaman pelayanan yang dirasakan oleh pelanggan.
  4. Tingkat kepuasan pelanggan belum diketahui secara menyeluruh.
  5. Belum diketahui sejauh mana kualitas pelayanan berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan pada Cafe X.

Perhatikan bahwa setiap poin masih berhubungan dengan judul dan variabel penelitian.


Contoh 2: Pendidikan

Judul:

“Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Digital terhadap Motivasi Belajar Siswa”

Identifikasi Masalah:

  1. Penggunaan media pembelajaran digital dalam proses pembelajaran belum dilakukan secara optimal.
  2. Sebagian siswa masih menunjukkan tingkat motivasi belajar yang rendah.
  3. Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran belum sepenuhnya disesuaikan dengan kebutuhan siswa.
  4. Terdapat perbedaan respons siswa terhadap penggunaan media pembelajaran digital.
  5. Belum diketahui pengaruh penggunaan media pembelajaran digital terhadap motivasi belajar siswa.

Contoh 3: Pemasaran

Judul:

“Pengaruh Social Media Marketing terhadap Keputusan Pembelian Produk Fashion”

Identifikasi Masalah:

  1. Persaingan pemasaran produk fashion melalui media sosial semakin tinggi.
  2. Tidak seluruh konten pemasaran di media sosial mendapatkan respons konsumen yang sama.
  3. Tingkat interaksi konsumen terhadap konten pemasaran masih beragam.
  4. Konsumen memiliki pertimbangan yang berbeda sebelum melakukan pembelian produk fashion melalui media sosial.
  5. Belum diketahui sejauh mana social media marketing berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen.

Contoh 4: Akuntansi

Judul:

“Pengaruh Pemahaman Akuntansi terhadap Kualitas Penyusunan Laporan Keuangan UMKM”

Identifikasi Masalah:

  1. Sebagian pelaku UMKM masih mengalami kesulitan dalam memahami pencatatan akuntansi.
  2. Pencatatan transaksi keuangan belum dilakukan secara konsisten.
  3. Sebagian laporan keuangan UMKM belum disusun secara sistematis.
  4. Tingkat pemahaman akuntansi pelaku UMKM berbeda-beda.
  5. Belum diketahui pengaruh pemahaman akuntansi terhadap kualitas penyusunan laporan keuangan UMKM.

Contoh 5: Teknologi Informasi

Judul:

“Pengaruh Kemudahan Penggunaan Aplikasi terhadap Kepuasan Pengguna”

Identifikasi Masalah:

  1. Sebagian pengguna masih mengalami kesulitan ketika menggunakan beberapa fitur aplikasi.
  2. Tingkat pemahaman pengguna terhadap fitur aplikasi berbeda-beda.
  3. Terdapat pengguna yang mengalami kendala dalam menyelesaikan aktivitas melalui aplikasi.
  4. Tingkat kepuasan pengguna terhadap aplikasi belum diketahui secara menyeluruh.
  5. Belum diketahui pengaruh kemudahan penggunaan aplikasi terhadap kepuasan pengguna.

Berapa Jumlah Identifikasi Masalah dalam Skripsi?

Tidak ada jumlah yang mutlak untuk semua penelitian.

Jumlah identifikasi masalah harus menyesuaikan:

  • pedoman kampus;
  • arahan dosen;
  • kompleksitas penelitian;
  • jumlah variabel;
  • dan luas permasalahan.

Sebagai gambaran, mahasiswa dapat memiliki beberapa poin identifikasi masalah yang kemudian dipersempit menjadi rumusan masalah.

Jangan membuat terlalu banyak poin hanya untuk membuat halaman terlihat panjang.

Yang terpenting adalah setiap poin relevan, jelas, dan dapat diteliti.


Perbedaan Identifikasi Masalah dan Rumusan Masalah

Bagian ini sering membuat mahasiswa tertukar.

Identifikasi Masalah

Berisi berbagai masalah yang ditemukan berdasarkan latar belakang.

Contohnya:

Masih terdapat keluhan pelanggan mengenai kualitas pelayanan.

Rumusan Masalah

Berisi pertanyaan penelitian yang akan dijawab melalui penelitian.

Contohnya:

Apakah kualitas pelayanan berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan pada Cafe X?

Jadi, secara sederhana:

Identifikasi Masalah = Apa saja masalah yang ditemukan?

Rumusan Masalah = Pertanyaan apa yang ingin dijawab?

Keduanya saling berkaitan, tetapi bukan bagian yang sama.


Hubungan Latar Belakang, Identifikasi Masalah, dan Rumusan Masalah

Ketiga bagian ini sebaiknya memiliki alur yang konsisten.

Urutannya:

Latar Belakang

↓

Menjelaskan fenomena dan kondisi

↓

Identifikasi Masalah

↓

Merangkum masalah yang ditemukan

↓

Rumusan Masalah

↓

Mengubah masalah menjadi pertanyaan penelitian

↓

Tujuan Penelitian

↓

Menjawab rumusan masalah

Jika alurnya konsisten, Bab 1 akan terasa lebih sistematis.


Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menulis Identifikasi Masalah

1. Membuat Masalah Baru yang Tidak Ada di Latar Belakang

Ini merupakan salah satu kesalahan yang sering terjadi.

Jika sebuah masalah tidak pernah dibahas di latar belakang, jangan tiba-tiba memasukkannya ke identifikasi masalah tanpa dasar.

2. Menulis Masalah Terlalu Umum

Contoh:

“Teknologi berkembang dengan sangat pesat.”

Kalimat tersebut merupakan fenomena, bukan identifikasi masalah.

Lebih baik:

“Pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran belum dilakukan secara optimal.”

3. Memasukkan Solusi

Identifikasi masalah berisi masalah, bukan solusi.

Contoh yang kurang tepat:

“Perusahaan harus meningkatkan kualitas pelayanan.”

Kalimat tersebut sudah berupa rekomendasi.

Lebih tepat:

“Kualitas pelayanan yang diberikan belum sepenuhnya memenuhi harapan pelanggan.”

4. Tidak Berkaitan dengan Judul

Jika judul membahas kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan, jangan memasukkan masalah yang tidak berhubungan seperti strategi investasi perusahaan kecuali memang menjadi bagian penelitian.

5. Menggunakan Bahasa yang Menghakimi

Gunakan bahasa akademis dan objektif.

Hindari kata-kata seperti:

  • sangat buruk;
  • sangat jelek;
  • pasti gagal;
  • pelanggan selalu kecewa;
  • perusahaan tidak becus.

Gunakan bahasa yang lebih terukur dan netral.


Tips Agar Identifikasi Masalah Lebih Akademis

Berikut beberapa tips yang dapat diterapkan.

Gunakan Kalimat yang Spesifik

Hindari kalimat terlalu umum.

Gunakan Bahasa Objektif

Fokus pada kondisi yang dapat diamati atau dibuktikan.

Pastikan Ada Dasarnya

Setiap masalah sebaiknya memiliki hubungan dengan fenomena, data, observasi, atau referensi.

Hubungkan dengan Variabel

Terutama pada penelitian kuantitatif, pastikan masalah mengarah pada variabel yang akan dianalisis.

Jangan Memaksakan Jumlah Poin

Lebih baik memiliki 4 poin yang relevan daripada 10 poin yang tidak jelas.

Periksa Pedoman Kampus

Setiap kampus dapat memiliki format penulisan yang berbeda.


Cara Menulis Identifikasi Masalah dari Latar Belakang

Jika sudah memiliki latar belakang tetapi belum memiliki identifikasi masalah, gunakan metode berikut.

Langkah 1: Tandai Masalah

Baca setiap paragraf dan tandai kalimat yang menunjukkan masalah.

Langkah 2: Kelompokkan Masalah

Masalah yang sama dapat digabungkan.

Langkah 3: Hubungkan dengan Variabel

Tentukan masalah tersebut berkaitan dengan variabel apa.

Langkah 4: Hilangkan Informasi yang Tidak Relevan

Tidak semua masalah harus dimasukkan.

Langkah 5: Ubah Menjadi Pernyataan Masalah

Susun dalam bentuk kalimat singkat dan objektif.

Langkah 6: Cocokkan dengan Rumusan Masalah

Pastikan identifikasi masalah dapat mengarah secara logis kepada rumusan masalah.


Cara Menggunakan AI untuk Membantu Menulis Identifikasi Masalah

AI dapat membantu mahasiswa mengolah latar belakang menjadi daftar masalah yang lebih terstruktur.

Contoh prompt yang dapat digunakan:

“Saya sedang menyusun skripsi dengan judul [judul penelitian]. Berikut adalah latar belakang penelitian saya: [tempelkan latar belakang]. Tolong identifikasi masalah yang benar-benar muncul dari latar belakang tersebut. Susun menjadi 5–7 poin menggunakan bahasa akademis, objektif, spesifik, dan tidak mengandung solusi. Pastikan setiap poin relevan dengan variabel dan objek penelitian. Jangan menambahkan masalah yang tidak terdapat dalam latar belakang.”

Prompt tersebut dapat membantu menghasilkan draft awal.

Setelah itu, mahasiswa tetap perlu memeriksa setiap poin dan menyesuaikannya dengan kondisi penelitian.

AI jangan digunakan untuk mengarang masalah yang sebenarnya tidak terjadi.


Prompt untuk Mengecek Identifikasi Masalah

Selain membuat identifikasi masalah, AI juga dapat digunakan untuk melakukan pengecekan.

Contohnya:

“Periksa identifikasi masalah berikut berdasarkan judul dan latar belakang penelitian. Tandai poin yang tidak relevan, terlalu umum, mengandung solusi, tidak memiliki dasar dari latar belakang, atau tidak sesuai dengan variabel penelitian. Kemudian berikan saran perbaikannya tanpa membuat data baru.”

Prompt seperti ini dapat membantu mahasiswa melakukan evaluasi awal sebelum berdiskusi dengan dosen pembimbing.


Checklist Identifikasi Masalah Skripsi

Sebelum memasukkan identifikasi masalah ke Bab 1, lakukan pengecekan berikut:

  • Apakah masalah berasal dari latar belakang?
  • Apakah setiap poin relevan dengan judul?
  • Apakah masalah dapat diteliti?
  • Apakah bahasanya objektif?
  • Apakah kalimatnya spesifik?
  • Apakah terdapat data atau dasar yang mendukung?
  • Apakah masalah berkaitan dengan variabel penelitian?
  • Apakah tidak memasukkan solusi?
  • Apakah tidak membuat masalah baru?
  • Apakah dapat mengarah ke rumusan masalah?
  • Apakah sudah sesuai pedoman kampus?

Jika seluruh poin tersebut sudah terpenuhi, identifikasi masalah akan lebih mudah dikembangkan menjadi bagian berikutnya.


Kesimpulan

Cara menulis identifikasi masalah skripsi dapat dimulai dengan membaca kembali latar belakang, menemukan masalah utama, mengelompokkan permasalahan yang relevan, menghubungkannya dengan variabel penelitian, kemudian menyusunnya dalam bentuk poin yang spesifik dan objektif.

Identifikasi masalah bukan tempat untuk menulis solusi atau membuat masalah baru. Semua poin sebaiknya memiliki dasar dari fenomena, data, observasi, atau pembahasan yang sudah dijelaskan dalam latar belakang.

Alur sederhananya adalah:

Latar Belakang → Temukan Fenomena → Identifikasi Masalah → Tentukan Fokus → Rumusan Masalah → Tujuan Penelitian.

Dengan memahami alur tersebut, mahasiswa dapat menyusun Bab 1 dengan lebih terarah dan menghindari masalah seperti identifikasi masalah yang terlalu luas, tidak sesuai judul, atau tidak memiliki hubungan dengan rumusan masalah.

AI juga dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mengidentifikasi poin masalah dari latar belakang, mengevaluasi konsistensi, dan memperbaiki bahasa akademis. Namun, mahasiswa tetap perlu memastikan bahwa setiap masalah benar-benar sesuai dengan kondisi penelitian dan arahan dosen pembimbing.

Butuh Bantuan Menyusun Skripsi?

Kalau kamu masih bingung menyusun identifikasi masalah skripsi, membuat rumusan masalah, mencari research gap, atau mengembangkan Bab 1, Molulus.id menyediakan panduan dan template Prompt AI untuk skripsi yang dapat membantu proses pengerjaan skripsi menjadi lebih mudah dan terarah.

Dengan prompt yang tepat, kamu bisa menggunakan AI untuk membantu membuat kerangka, mengevaluasi tulisan, mengembangkan ide, dan memeriksa konsistensi antarbagian skripsi.

Order sekarang melalui website Molulus.id atau WhatsApp 085179917579.

Gunakan AI sebagai alat bantu dalam proses akademik, tetap periksa fakta dan sumber, serta sesuaikan hasilnya dengan pedoman kampus dan arahan dosen pembimbing.

Molulus.id — bantu proses skripsi menjadi lebih mudah, rapi, dan terarah.