Salah satu bagian penting dalam penyusunan skripsi adalah rumusan masalah. Setelah menyelesaikan latar belakang dan identifikasi masalah, mahasiswa perlu menentukan pertanyaan penelitian yang akan menjadi fokus utama selama proses penelitian.
Banyak mahasiswa masih mengalami kesulitan ketika harus membuat rumusan masalah. Pertanyaan seperti “Apa contoh rumusan masalah yang baik?”, “Bagaimana membuat rumusan masalah dari judul skripsi?” atau “Apakah rumusan masalah harus berbentuk pertanyaan?” sering muncul ketika mulai menyusun Bab 1.
Rumusan masalah yang baik sebenarnya tidak harus panjang atau menggunakan bahasa yang rumit. Hal yang paling penting adalah rumusan masalah harus jelas, spesifik, relevan dengan judul, dapat diteliti, dan mampu mengarahkan penelitian.
Rumusan masalah juga memiliki hubungan yang erat dengan latar belakang, identifikasi masalah, tujuan penelitian, metode penelitian, hingga kesimpulan. Jika rumusan masalah dibuat dengan baik sejak awal, proses pengerjaan skripsi pada bagian berikutnya akan menjadi lebih terarah.
Dalam artikel ini, kita akan membahas contoh rumusan masalah yang baik, cara membuatnya, ciri-cirinya, contoh berdasarkan berbagai jurusan, serta kesalahan yang perlu dihindari.
Rumusan masalah adalah pertanyaan penelitian yang dibuat berdasarkan permasalahan yang telah dijelaskan dalam latar belakang.
Sederhananya, rumusan masalah menjawab pertanyaan:
“Apa yang ingin diketahui atau dijawab melalui penelitian ini?”
Misalnya seorang mahasiswa memiliki judul:
“Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Kepuasan Pelanggan pada Cafe X.”
Dari judul tersebut dapat dibuat beberapa rumusan masalah:
Ketiga pertanyaan tersebut nantinya menjadi dasar bagi mahasiswa untuk menentukan tujuan penelitian dan proses pengumpulan data.
Rumusan masalah bukan hanya formalitas dalam Bab 1. Bagian ini memiliki beberapa fungsi penting.
Rumusan masalah membantu membatasi penelitian agar pembahasan tidak melebar ke berbagai topik yang tidak diperlukan.
Tujuan penelitian biasanya dibuat berdasarkan rumusan masalah.
Dengan mengetahui pertanyaan penelitian, mahasiswa dapat menentukan data apa yang perlu dikumpulkan.
Rumusan masalah dapat membantu menentukan pendekatan, teknik pengumpulan data, dan metode analisis yang sesuai.
Kesimpulan penelitian pada akhirnya harus menjawab rumusan masalah yang telah dibuat.
Oleh karena itu, membuat rumusan masalah dengan baik sejak awal akan membantu menjaga konsistensi seluruh isi skripsi.
Sebelum melihat contoh rumusan masalah yang baik, pahami terlebih dahulu karakteristiknya.
Rumusan masalah harus mempunyai hubungan langsung dengan judul.
Jika judul membahas pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan, jangan membuat rumusan masalah tentang strategi investasi perusahaan.
Rumusan masalah harus mempunyai dasar dari masalah yang telah dijelaskan dalam latar belakang.
Jangan membuat pertanyaan baru yang tidak pernah dibahas sebelumnya.
Pertanyaan penelitian harus jelas dan tidak terlalu luas.
Contoh yang terlalu umum:
“Bagaimana perkembangan bisnis di Indonesia?”
Contoh yang lebih spesifik:
“Bagaimana strategi digital marketing yang diterapkan oleh UMKM X dalam meningkatkan jangkauan konsumen?”
Pertanyaan harus dapat dijawab menggunakan data dan metode penelitian.
Tidak perlu menggunakan kalimat yang terlalu panjang. Gunakan bahasa akademis yang mudah dipahami.
Untuk penelitian kuantitatif, rumusan masalah harus sesuai dengan variabel yang digunakan dalam penelitian.
Rumusan masalah merupakan pertanyaan, bukan rekomendasi.
Berikut langkah sederhana yang dapat digunakan.
Identifikasi variabel, objek, subjek, lokasi, dan fokus penelitian.
Contoh:
“Pengaruh Social Media Marketing terhadap Keputusan Pembelian Produk Fashion pada Mahasiswa.”
Variabel X: Social Media Marketing
Variabel Y: Keputusan Pembelian
Subjek: Mahasiswa
Objek: Produk Fashion
Cari masalah yang menjadi alasan penelitian dilakukan.
Identifikasi masalah dapat menjadi bahan utama untuk membuat pertanyaan penelitian.
Tanyakan:
Gunakan kata tanya yang sesuai seperti apa, bagaimana, apakah, mengapa, atau seberapa besar.
Bandingkan rumusan masalah dengan judul, latar belakang, identifikasi masalah, dan tujuan penelitian.
Penelitian kuantitatif umumnya menggunakan rumusan masalah yang berkaitan dengan pengaruh, hubungan, atau perbedaan.
Judul:
“Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Kepuasan Pelanggan pada Cafe X”
Rumusan Masalah:
Judul:
“Pengaruh Digital Marketing terhadap Keputusan Pembelian Produk Fashion”
Rumusan Masalah:
Judul:
“Pengaruh Social Media Marketing terhadap Minat Beli Mahasiswa”
Rumusan Masalah:
Penelitian kualitatif biasanya lebih banyak menggunakan pertanyaan yang bersifat eksploratif.
Judul:
“Penggunaan Artificial Intelligence sebagai Alat Bantu dalam Penyusunan Skripsi Mahasiswa”
Rumusan Masalah:
Judul:
“Strategi Digital Marketing UMKM X dalam Meningkatkan Penjualan”
Rumusan Masalah:
Judul:
“Pengaruh Motivasi Kerja terhadap Kinerja Karyawan”
Rumusan Masalah:
Judul:
“Pengaruh Pemahaman Akuntansi terhadap Kualitas Laporan Keuangan UMKM”
Rumusan Masalah:
Judul:
“Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Digital terhadap Motivasi Belajar Siswa”
Rumusan Masalah:
Judul:
“Pengaruh Kemudahan Penggunaan Aplikasi terhadap Kepuasan Pengguna”
Rumusan Masalah:
Judul:
“Strategi Komunikasi Digital dalam Meningkatkan Brand Awareness”
Rumusan Masalah:
Pemilihan kata tanya harus disesuaikan dengan tujuan penelitian.
Cocok untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh, hubungan, atau perbedaan.
Contoh:
Apakah kualitas pelayanan berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan?
Cocok untuk mengetahui kondisi, proses, strategi, atau pengalaman.
Contoh:
Bagaimana strategi pemasaran digital yang diterapkan oleh perusahaan?
Cocok ketika penelitian ingin mengetahui tingkat pengaruh.
Contoh:
Seberapa besar pengaruh digital marketing terhadap keputusan pembelian?
Cocok untuk mengidentifikasi faktor, bentuk, atau aspek tertentu.
Contoh:
Apa saja faktor yang memengaruhi keputusan pembelian konsumen?
Cocok untuk penelitian yang ingin memahami alasan atau penyebab suatu fenomena.
Contoh:
Mengapa konsumen memilih menggunakan layanan digital tertentu?
Keduanya sering dianggap sama, padahal memiliki fungsi berbeda.
Identifikasi masalah berisi berbagai masalah yang ditemukan dari latar belakang.
Contohnya:
Masih terdapat keluhan pelanggan terkait kecepatan pelayanan.
Sementara itu, rumusan masalah mengubah masalah tersebut menjadi pertanyaan penelitian.
Contohnya:
Apakah kualitas pelayanan berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan?
Jadi:
Identifikasi Masalah = Masalah apa yang ditemukan?
Rumusan Masalah = Apa yang ingin diketahui melalui penelitian?
Rumusan masalah dan tujuan penelitian harus memiliki hubungan yang sangat jelas.
Contoh:
Rumusan Masalah:
Bagaimana kualitas pelayanan pada Cafe X?
Tujuan Penelitian:
Untuk mengetahui kualitas pelayanan pada Cafe X.
Contoh lainnya:
Rumusan Masalah:
Apakah kualitas pelayanan berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan?
Tujuan Penelitian:
Untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan.
Dengan cara tersebut, pembaca dapat melihat hubungan yang jelas antara pertanyaan penelitian dan tujuan penelitian.
Beberapa kesalahan berikut perlu dihindari.
Rumusan masalah harus mengacu pada fokus penelitian.
Pertanyaan yang terlalu luas akan sulit dijawab secara mendalam.
Jangan memasukkan pertanyaan yang tidak mempunyai dasar dari latar belakang.
Jika variabel tersebut tidak ada dalam penelitian, jangan tiba-tiba memasukkannya ke rumusan masalah.
Contoh:
“Bagaimana cara perusahaan meningkatkan kualitas pelayanan?”
Jika penelitian memang tidak membahas solusi, pertanyaan tersebut dapat menjadi terlalu jauh dari fokus.
Pastikan data yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan memang dapat diperoleh.
Jumlah rumusan masalah harus disesuaikan dengan ruang lingkup dan kemampuan penelitian.
Agar rumusan masalah lebih berkualitas, gunakan beberapa tips berikut:
AI dapat digunakan sebagai alat bantu untuk membuat alternatif rumusan masalah, terutama ketika mahasiswa sudah mempunyai judul dan latar belakang tetapi masih kesulitan menentukan bentuk pertanyaannya.
Contoh prompt:
“Saya sedang menyusun skripsi dengan judul [judul skripsi]. Berikut latar belakang dan identifikasi masalah penelitian saya: [tempelkan teks]. Bantu saya membuat 3–5 contoh rumusan masalah yang baik dan sesuai dengan penelitian. Gunakan bahasa akademis, spesifik, dapat diteliti, dan sesuai dengan variabel serta objek penelitian. Jangan menambahkan variabel atau data yang tidak terdapat dalam informasi saya.”
AI kemudian dapat digunakan untuk menghasilkan beberapa alternatif yang bisa dibandingkan.
Namun, hasil AI tetap harus diperiksa. Jangan langsung memasukkan hasil AI ke dalam skripsi tanpa menyesuaikannya dengan kondisi penelitian dan pedoman kampus.
Jika rumusan masalah sudah dibuat, AI juga dapat digunakan untuk mengevaluasi konsistensinya.
Contohnya:
“Periksa rumusan masalah skripsi berikut berdasarkan judul, latar belakang, dan identifikasi masalah. Beri penilaian apakah setiap pertanyaan sudah relevan, spesifik, dapat diteliti, sesuai variabel, dan konsisten dengan tujuan penelitian. Jika ada yang kurang tepat, jelaskan masalahnya dan berikan alternatif perbaikan tanpa membuat data atau referensi baru.”
Dengan prompt tersebut, mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan awal sebelum berkonsultasi dengan dosen.
Sebelum memasukkan rumusan masalah ke dalam skripsi, gunakan checklist berikut:
Membuat contoh rumusan masalah yang baik dapat dimulai dengan memahami judul, membaca kembali latar belakang, melihat identifikasi masalah, kemudian menentukan hal yang ingin diketahui melalui penelitian.
Rumusan masalah yang baik harus jelas, spesifik, relevan, dapat diteliti, sesuai variabel, dan memiliki hubungan dengan tujuan penelitian. Jangan hanya mengubah judul menjadi kalimat tanya, tetapi pastikan pertanyaan tersebut benar-benar berasal dari permasalahan yang ditemukan.
Alur penyusunannya dapat dibuat sederhana:
Latar Belakang → Identifikasi Masalah → Rumusan Masalah → Tujuan Penelitian → Metode → Hasil → Kesimpulan.
Dengan memahami alur tersebut, mahasiswa dapat menjaga konsistensi isi skripsi dari Bab 1 hingga bagian kesimpulan.
AI juga dapat dimanfaatkan untuk membantu membuat alternatif rumusan masalah, mengecek konsistensi, dan memperbaiki struktur kalimat. Namun, AI tetap berfungsi sebagai alat bantu, bukan pengganti proses berpikir dan verifikasi mahasiswa.
Masih bingung menentukan contoh rumusan masalah yang baik, menyusun Bab 1, mencari research gap, atau mengembangkan bagian skripsi lainnya?
Molulus.id menyediakan panduan dan template Prompt AI untuk skripsi yang membantu mahasiswa menggunakan AI secara lebih terarah dalam proses penyusunan skripsi.
Mulai dari mencari ide penelitian, menyusun latar belakang, identifikasi masalah, rumusan masalah, hingga mengevaluasi tulisan skripsi.
Order sekarang melalui website Molulus.id atau WhatsApp 085179917579.
Gunakan AI secara bijak sebagai alat bantu akademik, tetap verifikasi data dan referensi, serta sesuaikan hasilnya dengan pedoman kampus dan arahan dosen pembimbing.
Molulus.id — bantu proses skripsi menjadi lebih mudah, rapi, dan terarah.