Dalam proses penyusunan skripsi, mahasiswa tidak hanya perlu menentukan judul dan rumusan masalah. Ada berbagai bagian yang harus disusun secara sistematis agar penelitian memiliki arah yang jelas. Salah satu bagian penting tersebut adalah kerangka pemikiran.
Bagi sebagian mahasiswa, membuat kerangka pemikiran skripsi bisa terasa cukup membingungkan. Banyak yang belum mengetahui hubungan antara teori, variabel penelitian, masalah penelitian, hingga hipotesis. Akibatnya, kerangka pemikiran yang dibuat terkadang hanya berupa gambar dengan beberapa kotak dan tanda panah tanpa penjelasan yang jelas.
Padahal, kerangka pemikiran memiliki fungsi penting untuk menunjukkan bagaimana peneliti memahami suatu masalah dan bagaimana hubungan antarvariabel dalam penelitian tersebut.
Melalui panduan membuat kerangka pemikiran ini, kamu akan mempelajari pengertian kerangka pemikiran, fungsi, unsur yang perlu dimasukkan, langkah-langkah membuatnya, contoh sederhana, hingga kesalahan yang perlu dihindari.
Kerangka pemikiran adalah gambaran atau alur logis yang menjelaskan hubungan antara konsep, teori, variabel, dan permasalahan yang menjadi dasar suatu penelitian.
Sederhananya, kerangka pemikiran menjawab pertanyaan:
“Bagaimana peneliti melihat hubungan antara masalah yang diteliti dengan variabel-variabel yang digunakan?”
Kerangka pemikiran biasanya dibuat dalam bentuk diagram atau bagan. Di dalamnya terdapat beberapa komponen yang saling berhubungan menggunakan garis atau tanda panah.
Contohnya, penelitian memiliki variabel:
Maka kerangka pemikirannya dapat menggambarkan bahwa kualitas pelayanan (X) berhubungan atau berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan (Y).
Namun, kerangka pemikiran yang baik tidak hanya dibuat berdasarkan perkiraan peneliti. Hubungan antarvariabel harus memiliki dasar teori dan didukung oleh penelitian terdahulu yang relevan.
Kerangka pemikiran memiliki beberapa fungsi penting dalam penelitian.
Kerangka pemikiran membantu pembaca memahami bagaimana penelitian tersebut dibangun dari masalah hingga variabel penelitian.
Dalam penelitian kuantitatif, kerangka pemikiran dapat menunjukkan hubungan antara variabel independen, dependen, intervening, moderating, atau variabel lainnya.
Jika penelitian menggunakan hipotesis, kerangka pemikiran dapat menjadi dasar untuk merumuskan dugaan hubungan antarvariabel.
Kerangka pemikiran membantu mahasiswa tetap fokus pada variabel dan hubungan yang memang diteliti.
Hubungan antarvariabel yang telah ditentukan dapat membantu mahasiswa menentukan data apa yang perlu dikumpulkan dan bagaimana data tersebut dianalisis.
Istilah kerangka pemikiran, kerangka berpikir, dan kerangka konseptual terkadang digunakan secara berbeda tergantung pedoman kampus atau bidang ilmu.
Secara umum, kerangka pemikiran lebih menekankan pada alur logis bagaimana teori dan penelitian terdahulu digunakan untuk menjelaskan masalah penelitian.
Sementara itu, kerangka konseptual biasanya lebih fokus pada konsep dan hubungan antarvariabel yang akan diteliti.
Namun, jangan terpaku pada istilahnya. Hal yang paling penting adalah mengikuti pedoman skripsi dari kampus dan arahan dosen pembimbing.
Sebelum membuat kerangka pemikiran, pahami terlebih dahulu komponen yang biasanya terdapat di dalamnya.
Kerangka pemikiran harus berangkat dari masalah yang ingin dijawab melalui penelitian.
Masalah tersebut dapat berasal dari fenomena, data, teori, maupun hasil penelitian sebelumnya.
Teori digunakan untuk memberikan dasar akademik terhadap hubungan atau konsep yang digunakan dalam penelitian.
Untuk penelitian kuantitatif, variabel menjadi bagian penting dalam kerangka pemikiran.
Contohnya:
Penelitian sebelumnya dapat digunakan untuk mendukung hubungan antarvariabel.
Misalnya, beberapa penelitian menemukan bahwa kualitas produk berpengaruh terhadap keputusan pembelian.
Bagian ini menunjukkan bagaimana variabel dalam penelitian saling berhubungan.
Jika penelitian menggunakan hipotesis, kerangka pemikiran dapat menjadi dasar dalam menunjukkan arah hubungan yang akan diuji.
Berikut langkah-langkah yang dapat digunakan untuk membuat kerangka pemikiran.
Langkah pertama adalah memahami judul secara keseluruhan.
Misalnya:
“Pengaruh Kualitas Produk dan Harga terhadap Keputusan Pembelian Produk Skincare.”
Dari judul tersebut, terdapat tiga variabel utama:
Dengan mengetahui variabel tersebut, kamu sudah memiliki gambaran awal mengenai kerangka pemikiran.
Setelah memahami judul, tentukan posisi masing-masing variabel.
Dalam penelitian kuantitatif sederhana:
Variabel independen (X) adalah variabel yang diduga memengaruhi.
Variabel dependen (Y) adalah variabel yang diduga dipengaruhi.
Contohnya:
X1 Kualitas Produk → Y Keputusan Pembelian
X2 Harga → Y Keputusan Pembelian
Jika penelitian memiliki variabel mediasi atau moderasi, struktur kerangka pemikiran akan menjadi lebih kompleks.
Jangan menentukan hubungan antarvariabel hanya berdasarkan asumsi pribadi.
Cari teori yang menjelaskan konsep dan hubungan tersebut.
Misalnya, jika penelitian membahas kualitas produk dan keputusan pembelian, mahasiswa perlu memahami teori mengenai kualitas produk, perilaku konsumen, dan keputusan pembelian.
Teori tersebut nantinya dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa sebuah variabel diperkirakan memiliki hubungan dengan variabel lainnya.
Penelitian terdahulu dapat membantu memperkuat hubungan antarvariabel.
Cari beberapa jurnal yang relevan dengan topik penelitian.
Perhatikan:
Jika beberapa penelitian menunjukkan hubungan yang serupa, temuan tersebut dapat menjadi salah satu dasar dalam membangun kerangka pemikiran.
Setelah teori dan penelitian terdahulu dipahami, tentukan hubungan antarvariabel.
Misalnya:
Kualitas Produk (X1) → Keputusan Pembelian (Y)
Harga (X2) → Keputusan Pembelian (Y)
Jika terdapat variabel lain, masukkan sesuai dengan model penelitian.
Setelah hubungan antarvariabel ditentukan, ubah hubungan tersebut menjadi diagram.
Contoh sederhana:
Kualitas Produk (X1)
↓
↓
Keputusan Pembelian (Y)
↑
↑
Harga (X2)Atau dapat dibuat dalam bentuk:
X1 ────────────→ Y
↑
X2 ─────────────┘Diagram tersebut kemudian dapat dibuat menggunakan Microsoft Word, PowerPoint, Canva, atau aplikasi desain lainnya.
Jangan hanya memasukkan gambar kerangka pemikiran tanpa penjelasan.
Setelah diagram, jelaskan hubungan antarvariabel menggunakan narasi akademik.
Contohnya:
“Berdasarkan landasan teori dan penelitian terdahulu, kualitas produk dan harga diduga memiliki hubungan terhadap keputusan pembelian. Kualitas produk berkaitan dengan kemampuan produk dalam memenuhi kebutuhan dan harapan konsumen, sedangkan harga berkaitan dengan nilai yang harus dikeluarkan konsumen untuk memperoleh produk. Berdasarkan hubungan tersebut, penelitian ini menguji pengaruh kualitas produk dan harga terhadap keputusan pembelian.”
Penjelasan harus disesuaikan dengan teori dan sumber yang benar-benar digunakan.
Misalnya kamu ingin melakukan penelitian dengan judul:
“Pengaruh Social Media Marketing dan Brand Image terhadap Keputusan Pembelian.”
Variabelnya:
Kerangka pemikirannya dapat digambarkan:
Social Media Marketing (X1)
│
│
▼
┌─────────────────────────┐
│ Keputusan Pembelian (Y) │
└─────────────────────────┘
▲
│
Brand Image (X2)Dalam model tersebut, social media marketing dan brand image menjadi variabel independen, sedangkan keputusan pembelian menjadi variabel dependen.
Namun, diagram tersebut baru merupakan bentuk sederhana. Dalam skripsi, mahasiswa perlu menjelaskan hubungan tersebut berdasarkan teori dan penelitian terdahulu.
Jika penelitian menggunakan variabel mediasi, bentuk kerangka pemikiran akan berbeda.
Misalnya:
“Pengaruh Digital Marketing terhadap Keputusan Pembelian melalui Brand Trust.”
Variabel:
Diagram sederhananya:
Digital Marketing (X)
│
▼
Brand Trust (Z)
│
▼
Keputusan Pembelian (Y)Dalam penelitian tertentu, peneliti juga dapat menguji hubungan langsung:
Digital Marketing (X) ─────────→ Keputusan Pembelian (Y)
│
▼
Brand Trust (Z)
│
└────────────────────→Model tersebut perlu disesuaikan dengan teori, tujuan penelitian, dan metode analisis yang digunakan.
Tidak semua penelitian menggunakan hubungan variabel X dan Y.
Dalam penelitian kualitatif, kerangka pemikiran dapat lebih menekankan pada alur konsep, fenomena, fokus penelitian, dan aspek yang akan dieksplorasi.
Misalnya penelitian:
“Strategi Digital Marketing UMKM dalam Meningkatkan Penjualan.”
Kerangka pemikirannya dapat dimulai dari:
Fenomena → Permasalahan → Konsep Digital Marketing → Strategi yang Digunakan → Implementasi → Dampak terhadap Penjualan
Karena pendekatan kualitatif dapat memiliki karakteristik yang berbeda dengan penelitian kuantitatif, bentuk kerangka pemikirannya juga tidak harus berupa hubungan X → Y.
Dalam penelitian kuantitatif, kerangka pemikiran sering berkaitan erat dengan hipotesis.
Misalnya:
Kerangka pemikiran menunjukkan:
Kualitas Produk (X) → Keputusan Pembelian (Y)
Maka salah satu hipotesis yang dapat dirumuskan:
H1: Kualitas produk berpengaruh terhadap keputusan pembelian.
Jika terdapat dua variabel independen:
X1 Kualitas Produk → Y Keputusan Pembelian
X2 Harga → Y Keputusan Pembelian
Maka hipotesis dapat dikembangkan sesuai model penelitian.
Namun, hipotesis tidak boleh dibuat hanya berdasarkan gambar kerangka pemikiran. Hipotesis harus memiliki dasar teori dan dukungan penelitian terdahulu yang relevan.
Kerangka pemikiran seharusnya memiliki dasar akademik yang jelas.
Pastikan semua variabel dalam diagram sesuai dengan judul, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan hipotesis.
Jangan memasukkan banyak variabel hanya agar diagram terlihat kompleks.
Gunakan variabel yang memang memiliki dasar teori dan relevan dengan masalah penelitian.
Diagram saja tidak cukup. Jelaskan hubungan yang terdapat dalam diagram.
Jika kerangka menunjukkan X berpengaruh terhadap Y, hipotesis dan pembahasan penelitian harus konsisten dengan model tersebut.
Kerangka penelitian dari skripsi sebelumnya dapat menjadi referensi untuk memahami format, tetapi jangan menyalinnya secara langsung.
Penelitian kamu harus memiliki dasar teori dan model yang sesuai dengan masalah penelitian sendiri.
Jika masih bingung, gunakan urutan sederhana berikut:
Judul → Masalah → Teori → Penelitian Terdahulu → Variabel → Hubungan Variabel → Diagram → Hipotesis
Urutan tersebut dapat membantu mahasiswa memahami bagaimana kerangka pemikiran dibangun.
Kamu juga dapat membuat tabel sederhana sebelum menggambar diagram:
| Komponen | Isi |
|---|---|
| Masalah | Fenomena yang ingin diteliti |
| Teori | Teori yang mendukung |
| X1 | Variabel independen pertama |
| X2 | Variabel independen kedua |
| Y | Variabel dependen |
| Hubungan | X1 dan X2 terhadap Y |
| Dasar | Teori dan penelitian terdahulu |
| Output | Kerangka pemikiran dan hipotesis |
Dengan cara tersebut, proses membuat kerangka pemikiran menjadi lebih terstruktur.
AI dapat digunakan sebagai alat bantu untuk melakukan brainstorming dan menyusun struktur awal kerangka pemikiran.
Misalnya, kamu dapat memberikan judul, variabel, teori, dan ringkasan penelitian terdahulu kepada AI.
Contoh prompt:
“Saya sedang menyusun skripsi dengan judul [JUDUL]. Variabel penelitian saya adalah [VARIABEL]. Berdasarkan teori dan ringkasan penelitian terdahulu yang saya berikan, bantu saya menyusun alur kerangka pemikiran secara sistematis. Jelaskan hubungan setiap variabel dan buatkan rancangan diagram sederhana. Jangan membuat referensi atau hasil penelitian yang tidak saya berikan.”
Prompt tersebut dapat membantu mahasiswa mendapatkan gambaran awal sebelum membuat kerangka pemikiran.
Namun, hasil dari AI tetap harus diperiksa. Jangan memasukkan teori, hubungan variabel, atau referensi yang tidak dapat diverifikasi.
AI sebaiknya digunakan sebagai asisten dalam proses berpikir, bukan sebagai pengganti sumber akademik.
Membuat kerangka pemikiran hanyalah salah satu tahap dalam proses penyusunan skripsi. Setelah kerangka selesai, mahasiswa masih perlu memastikan rumusan masalah, tujuan penelitian, hipotesis, metode penelitian, instrumen, hingga teknik analisis semuanya konsisten.
Kalau kamu ingin menggunakan AI secara lebih terarah untuk membantu proses penyusunan skripsi, Molulus.id menyediakan panduan dan template prompt AI yang dapat membantu mahasiswa dalam berbagai tahapan pengerjaan skripsi.
Mulai dari mencari ide judul, menentukan topik, menyusun latar belakang, mencari research gap, memahami penelitian terdahulu, membuat kerangka pemikiran, hingga mempersiapkan kebutuhan skripsi lainnya.
Jangan biarkan bingung menyusun skripsi membuat proses pengerjaanmu berhenti.
👉 Order melalui website: molulus.id
👉 Order melalui WhatsApp: 085179917579
Gunakan AI secara bijak untuk membantu mempercepat proses berpikir, menyusun ide, dan mengorganisasi pekerjaan akademik. Tetap gunakan sumber ilmiah yang valid dan lakukan verifikasi sebelum memasukkan informasi ke dalam skripsi.
Panduan membuat kerangka pemikiran pada dasarnya dimulai dari memahami masalah penelitian, menentukan teori yang relevan, mengidentifikasi variabel, mempelajari penelitian terdahulu, menentukan hubungan antarvariabel, kemudian menyusunnya menjadi diagram yang sistematis.
Kerangka pemikiran yang baik bukan sekadar gambar berisi kotak dan tanda panah. Setiap hubungan di dalamnya harus memiliki alasan akademik yang dapat dijelaskan melalui teori dan penelitian terdahulu.
Untuk penelitian kuantitatif, kerangka pemikiran umumnya menggambarkan hubungan antara variabel independen dan dependen, sedangkan penelitian dengan variabel mediasi atau moderasi membutuhkan model yang lebih kompleks. Pada penelitian kualitatif, kerangka pemikiran dapat lebih berfokus pada alur konsep, fenomena, dan fokus penelitian.
Dengan menyusun kerangka pemikiran secara sistematis, mahasiswa akan lebih mudah memahami arah penelitian, menentukan hipotesis, menyusun metode penelitian, dan menjelaskan penelitian ketika melakukan bimbingan dengan dosen.
Jika kamu sedang menyusun skripsi dan membutuhkan panduan penggunaan AI untuk membantu berbagai tahap pengerjaan, kunjungi molulus.id atau hubungi WhatsApp 085179917579