Salin URL

Research Gap Bisa Ditemukan dari Mana?

Menentukan research gap merupakan salah satu tahap penting dalam proses penyusunan skripsi. Banyak mahasiswa sebenarnya sudah memiliki topik penelitian, tetapi masih bingung ketika harus menjawab pertanyaan, “Research gap penelitian kamu apa?”

Pertanyaan tersebut cukup sering muncul ketika mahasiswa melakukan konsultasi judul atau proposal dengan dosen. Masalahnya, research gap tidak selalu terlihat secara langsung. Mahasiswa perlu membaca, membandingkan, dan memahami beberapa penelitian terdahulu untuk menemukan bagian yang masih dapat dikembangkan.

Lalu, research gap bisa ditemukan dari mana?

Jawabannya cukup beragam. Research gap dapat ditemukan dari hasil penelitian terdahulu yang berbeda, keterbatasan penelitian, rekomendasi penelitian selanjutnya, perbedaan objek, perbedaan metode, perbedaan teori, perubahan kondisi atau fenomena, hingga masalah yang belum mendapatkan penjelasan yang memadai.

Dengan mengetahui sumber-sumber tersebut, proses mencari research gap untuk skripsi akan menjadi lebih terarah.

Artikel ini akan membahas research gap bisa ditemukan dari mana, bagaimana cara menemukannya, contoh sederhana, serta kesalahan yang perlu dihindari saat menentukan research gap.


Apa Itu Research Gap?

Sebelum membahas sumbernya, penting untuk memahami pengertian research gap.

Research gap adalah celah atau bagian yang masih belum terjawab, belum lengkap, belum konsisten, atau masih dapat dikembangkan dari penelitian yang sudah ada.

Research gap menjadi salah satu alasan akademis mengapa penelitian baru perlu dilakukan.

Sebagai contoh, terdapat beberapa penelitian mengenai pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan masyarakat.

Penelitian pertama menemukan bahwa kualitas pelayanan berpengaruh positif terhadap kepuasan masyarakat.

Namun, penelitian kedua mendapatkan hasil yang berbeda.

Perbedaan hasil tersebut dapat menjadi salah satu bentuk research gap.

Penelitian baru kemudian dapat dilakukan untuk memahami hubungan tersebut dalam konteks, objek, lokasi, atau kondisi tertentu.

Jadi, research gap tidak selalu berarti menemukan topik yang belum pernah diteliti sama sekali.


Research Gap Bisa Ditemukan dari Mana?

Ada beberapa sumber yang bisa digunakan mahasiswa untuk menemukan research gap. Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Dari Penelitian Terdahulu

Sumber pertama dan paling umum adalah penelitian terdahulu.

Ketika mengerjakan skripsi, kamu perlu membaca penelitian yang relevan dengan topik yang ingin diteliti.

Misalnya kamu ingin membahas:

Pengaruh media sosial terhadap keputusan pembelian.

Cari penelitian yang membahas:

  • Social media marketing.
  • Media sosial dan perilaku konsumen.
  • Media sosial dan keputusan pembelian.
  • Digital marketing dan minat beli.
  • Content marketing dan keputusan pembelian.

Setelah menemukan beberapa penelitian, jangan hanya melihat judulnya.

Bandingkan isi penelitian tersebut, terutama:

  • Tujuan penelitian.
  • Objek penelitian.
  • Variabel.
  • Metode.
  • Hasil.
  • Keterbatasan.
  • Saran penelitian selanjutnya.

Dari perbandingan tersebut, kamu dapat menemukan bagian yang berbeda atau belum banyak dikaji.


2. Dari Perbedaan Hasil Penelitian

Salah satu sumber research gap yang cukup mudah ditemukan adalah perbedaan hasil penelitian.

Misalnya:

Penelitian A:
Kualitas pelayanan berpengaruh terhadap kepuasan masyarakat.

Penelitian B:
Kualitas pelayanan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasan masyarakat.

Ketika menemukan hasil seperti ini, jangan langsung memilih salah satu penelitian yang dianggap benar.

Justru, perbedaan tersebut dapat menjadi pertanyaan penelitian.

Misalnya:

Mengapa penelitian sebelumnya memberikan hasil yang berbeda?

Apakah perbedaannya disebabkan oleh:

  • Objek penelitian?
  • Karakteristik responden?
  • Lokasi penelitian?
  • Periode penelitian?
  • Variabel lain?
  • Metode penelitian?

Pertanyaan tersebut dapat membantu menemukan research gap.


3. Dari Keterbatasan Penelitian

Jika kamu bertanya research gap bisa ditemukan dari mana, bagian keterbatasan penelitian atau limitations merupakan salah satu tempat yang wajib diperhatikan.

Peneliti biasanya menjelaskan keterbatasan penelitian mereka di bagian akhir artikel.

Contohnya:

Penelitian hanya dilakukan pada satu wilayah.

Atau:

Jumlah responden dalam penelitian masih terbatas.

Atau:

Penelitian hanya menggunakan pendekatan kuantitatif.

Keterbatasan tersebut dapat memberikan ide untuk penelitian selanjutnya.

Misalnya penelitian sebelumnya hanya dilakukan di satu daerah, kamu dapat mempertimbangkan daerah lain jika memang terdapat alasan yang relevan.

Namun, jangan menganggap semua keterbatasan otomatis menjadi research gap. Kamu tetap perlu memastikan bahwa keterbatasan tersebut berkaitan dengan masalah penelitian yang ingin kamu kaji.


4. Dari Saran Penelitian Selanjutnya

Sumber berikutnya adalah bagian saran penelitian selanjutnya atau future research.

Bagian ini biasanya berisi rekomendasi peneliti mengenai penelitian yang masih dapat dilakukan.

Misalnya peneliti menyarankan:

  • Menggunakan objek penelitian yang berbeda.
  • Menambahkan variabel lain.
  • Menggunakan metode berbeda.
  • Menguji model pada wilayah lain.
  • Menggunakan karakteristik responden berbeda.
  • Melakukan penelitian dalam konteks yang berbeda.

Saran tersebut bisa menjadi titik awal untuk menemukan research gap.

Namun, jangan sekadar mengambil saran penelitian lalu menjadikannya judul. Kamu tetap harus membaca literatur lain untuk memastikan bahwa topik tersebut memang relevan.


5. Dari Perbedaan Objek Penelitian

Research gap juga dapat ditemukan melalui perbedaan objek penelitian.

Misalnya sebagian besar penelitian sebelumnya membahas perusahaan besar.

Sementara kamu menemukan fenomena yang sama pada UMKM.

Perbedaan karakteristik tersebut dapat menjadi peluang penelitian.

Contohnya:

Penelitian sebelumnya banyak membahas strategi digital marketing pada perusahaan besar, sedangkan penelitian mengenai penerapannya pada UMKM tertentu masih perlu dikaji lebih lanjut.

Dari sini, kamu dapat mengembangkan penelitian sesuai dengan objek yang dipilih.

Tetapi ingat, sekadar mengganti objek tidak otomatis membuat penelitian menjadi baru. Harus ada alasan mengapa objek tersebut penting untuk dikaji.


6. Dari Perbedaan Lokasi atau Konteks

Sumber research gap berikutnya adalah perbedaan lokasi dan konteks penelitian.

Misalnya penelitian sebelumnya dilakukan di kota besar.

Kamu menemukan kondisi berbeda di daerah lain.

Atau penelitian sebelumnya membahas pelayanan publik secara konvensional, sedangkan saat ini layanan tersebut sudah beralih ke sistem digital.

Perubahan konteks tersebut dapat menjadi alasan untuk melakukan penelitian baru.

Contohnya:

Penelitian mengenai kualitas pelayanan sebelumnya berfokus pada pelayanan tatap muka, sementara perkembangan layanan digital menimbulkan kebutuhan untuk memahami pengalaman masyarakat dalam menggunakan pelayanan berbasis digital.

Perbedaan konteks dapat menjadi salah satu dasar research gap jika didukung oleh literatur yang sesuai.


7. Dari Perbedaan Metode Penelitian

Research gap juga dapat ditemukan dari metode.

Misalnya penelitian sebelumnya menggunakan metode kuantitatif untuk mengukur hubungan antara dua variabel.

Kamu kemudian menemukan bahwa masih diperlukan pemahaman yang lebih mendalam mengenai pengalaman subjek.

Penelitian kualitatif dapat dipertimbangkan untuk menggali pengalaman tersebut.

Contohnya:

Penelitian sebelumnya:
Survei mengenai tingkat kepuasan pengguna.

Penelitian lanjutan:
Wawancara mengenai pengalaman pengguna dalam memperoleh layanan.

Perbedaan pendekatan dapat memberikan perspektif yang berbeda terhadap fenomena.


8. Dari Perbedaan Teori

Research gap juga bisa berasal dari teori yang digunakan dalam penelitian terdahulu.

Misalnya penelitian sebelumnya menggunakan teori tertentu untuk menjelaskan perilaku konsumen.

Namun, terdapat teori lain yang dianggap relevan untuk menjelaskan fenomena yang sama dari perspektif berbeda.

Hal tersebut dapat menjadi dasar pengembangan penelitian.

Namun, jangan menggunakan teori baru hanya agar penelitian terlihat berbeda.

Teori harus memiliki hubungan yang jelas dengan masalah penelitian dan didukung oleh literatur akademis.


9. Dari Perubahan Fenomena

Research gap tidak selalu hanya berasal dari jurnal.

Kamu juga dapat menemukan peluang penelitian dari perubahan fenomena di masyarakat.

Misalnya:

  • Perubahan kebiasaan konsumen.
  • Perkembangan teknologi.
  • Perubahan kebijakan.
  • Munculnya platform digital baru.
  • Perubahan perilaku mahasiswa.
  • Perubahan pola kerja.
  • Perkembangan layanan publik.

Misalnya beberapa tahun lalu penggunaan suatu teknologi masih terbatas, tetapi sekarang teknologi tersebut semakin banyak digunakan.

Perubahan tersebut dapat memunculkan pertanyaan penelitian baru.

Namun, fenomena saja belum cukup menjadi research gap. Fenomena perlu dihubungkan dengan penelitian terdahulu untuk menunjukkan bagian yang belum terjawab.


10. Dari Masalah yang Belum Terjawab

Research gap juga bisa ditemukan dari pertanyaan yang belum mendapatkan jawaban yang memadai.

Misalnya penelitian terdahulu sudah menjelaskan bahwa suatu kebijakan telah diterapkan.

Namun, masih belum jelas bagaimana pengalaman masyarakat setelah kebijakan tersebut diterapkan.

Kondisi tersebut dapat menjadi peluang untuk penelitian baru.

Dengan kata lain, kamu dapat bertanya:

“Apa yang masih belum dijelaskan oleh penelitian sebelumnya?”

Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa menjadi petunjuk untuk menemukan research gap.


Cara Menemukan Research Gap dari Jurnal

Setelah mengetahui research gap bisa ditemukan dari mana, langkah selanjutnya adalah mengetahui cara mencarinya secara praktis.

Berikut langkah yang bisa dilakukan.

Langkah 1: Tentukan topik

Pilih topik yang sesuai dengan jurusan dan minat penelitian.

Langkah 2: Buat kata kunci

Buat beberapa kombinasi kata kunci yang relevan.

Langkah 3: Cari penelitian terdahulu

Temukan artikel jurnal yang berkaitan dengan topik.

Langkah 4: Pilih penelitian paling relevan

Tidak semua jurnal yang ditemukan harus digunakan.

Langkah 5: Buat tabel perbandingan

Catat:

  • Peneliti.
  • Tahun.
  • Topik.
  • Objek.
  • Variabel.
  • Metode.
  • Hasil.
  • Keterbatasan.

Langkah 6: Bandingkan hasilnya

Cari penelitian yang memiliki hasil berbeda.

Langkah 7: Perhatikan keterbatasan

Lihat apa yang belum dapat dijelaskan oleh penelitian sebelumnya.

Langkah 8: Baca saran penelitian

Perhatikan rekomendasi penelitian selanjutnya.

Langkah 9: Tentukan gap yang paling relevan

Jangan mengambil semua gap.

Pilih yang paling sesuai dengan kemampuan dan tujuan penelitian.

Langkah 10: Hubungkan dengan judul

Pastikan research gap benar-benar mendukung fokus penelitianmu.


Contoh Sederhana Menemukan Research Gap

Misalnya kamu tertarik dengan topik:

Digital marketing pada UMKM.

Setelah mencari penelitian terdahulu, kamu menemukan:

Penelitian A:
Membahas pengaruh digital marketing terhadap keputusan pembelian pada perusahaan besar.

Penelitian B:
Membahas penggunaan media sosial oleh UMKM.

Penelitian C:
Menganalisis strategi pemasaran digital pada UMKM tetapi menggunakan pendekatan kualitatif.

Setelah membandingkan ketiganya, kamu menemukan bahwa terdapat ruang untuk mengkaji hubungan tertentu pada konteks UMKM dengan karakteristik yang lebih spesifik.

Dari sini, kamu bisa mengembangkan fokus penelitian berdasarkan gap yang benar-benar didukung oleh literatur.


Buat Tabel Research Gap agar Lebih Mudah

Agar tidak bingung saat membaca banyak jurnal, buat tabel seperti berikut:

PenelitianObjekMetodeHasilKeterbatasan
APerusahaanKuantitatifBerpengaruhObjek terbatas
BUMKMKuantitatifTidak signifikanLokasi terbatas
CUMKMKualitatifStrategi tertentuFokus berbeda

Setelah tabel dibuat, tanyakan:

Apa yang berbeda?

Apa yang belum diteliti?

Apa yang belum dijelaskan?

Apa yang hasilnya tidak konsisten?

Apa yang bisa dikembangkan?

Dari pertanyaan tersebut, research gap biasanya akan lebih mudah terlihat.


Apakah Research Gap Harus Selalu Unik?

Tidak harus.

Research gap tidak berarti penelitianmu harus menjadi penelitian pertama di dunia.

Yang penting adalah terdapat alasan akademis yang jelas mengapa penelitian tersebut perlu dilakukan.

Misalnya penelitian sebelumnya sudah membahas topik yang sama, tetapi:

  • Objeknya berbeda.
  • Konteksnya berbeda.
  • Hasil penelitian tidak konsisten.
  • Metodenya berbeda.
  • Periode penelitian berbeda.
  • Variabel tertentu belum dikaji.
  • Fenomenanya mengalami perubahan.

Hal-hal tersebut dapat menjadi ruang untuk penelitian lebih lanjut.


Kesalahan Saat Mencari Research Gap

Ada beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari.

1. Hanya membaca satu jurnal

Satu penelitian belum cukup untuk melihat keseluruhan kondisi penelitian.

2. Menganggap topik yang belum pernah diteliti sebagai satu-satunya gap

Research gap memiliki banyak bentuk.

3. Mengarang hasil penelitian

Jangan menulis hasil penelitian yang tidak sesuai dengan sumber asli.

4. Tidak membaca bagian keterbatasan

Padahal, bagian tersebut sering memberikan petunjuk penting.

5. Research gap tidak sesuai dengan judul

Gap dan judul harus memiliki hubungan yang jelas.

6. Mengganti objek tanpa alasan

Perbedaan objek harus memiliki alasan akademis atau kontekstual.

7. Terlalu banyak memasukkan gap

Satu penelitian tidak perlu menyelesaikan semua masalah penelitian sekaligus.


Checklist Menemukan Research Gap

Sebelum menentukan research gap, gunakan checklist berikut:

  • Sudah menentukan topik penelitian.
  • Sudah membuat kata kunci.
  • Sudah mencari penelitian terdahulu.
  • Sudah membaca beberapa jurnal relevan.
  • Sudah membandingkan penelitian.
  • Sudah mencatat hasil penelitian.
  • Sudah membaca bagian keterbatasan.
  • Sudah membaca saran penelitian selanjutnya.
  • Sudah menemukan perbedaan atau celah.
  • Research gap memiliki sumber yang jelas.
  • Research gap sesuai dengan topik.
  • Research gap bisa diteliti.
  • Data penelitian memungkinkan diperoleh.
  • Research gap mendukung judul skripsi.

Kesimpulan

Jadi, research gap bisa ditemukan dari mana? Jawabannya bukan hanya dari satu sumber.

Research gap dapat ditemukan dari penelitian terdahulu, perbedaan hasil penelitian, keterbatasan penelitian, saran penelitian selanjutnya, perbedaan objek, lokasi, konteks, metode, teori, perubahan fenomena, hingga masalah yang belum terjawab.

Cara paling efektif untuk menemukannya adalah dengan membaca beberapa penelitian yang relevan, kemudian membuat perbandingan secara sistematis. Catat objek, metode, variabel, hasil, keterbatasan, dan saran dari setiap penelitian.

Setelah itu, cari pola perbedaannya.

Apakah ada hasil yang bertentangan? Apakah ada objek yang belum banyak diteliti? Apakah ada metode yang belum digunakan? Apakah fenomenanya sudah berubah? Atau apakah ada pertanyaan yang belum mendapatkan jawaban?

Dari situlah kamu dapat menemukan research gap.

Yang perlu diingat, research gap bukan sesuatu yang boleh dibuat-buat. Setiap gap harus memiliki dasar dari literatur yang relevan dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.

Dengan research gap yang jelas, kamu akan lebih mudah menyusun latar belakang, menentukan rumusan masalah, memilih fokus penelitian, hingga membuat judul skripsi yang lebih terarah.


Butuh Bantuan Menemukan Research Gap untuk Skripsi?

Sudah membaca banyak jurnal tetapi masih bingung research gap bisa ditemukan dari mana? Atau sudah menemukan beberapa penelitian terdahulu tetapi kesulitan menentukan celah yang bisa dijadikan dasar skripsi?

Molulus.id siap membantu kebutuhan skripsimu agar proses penelitian menjadi lebih terarah.

Kamu bisa melakukan order melalui website Molulus.id atau menghubungi WhatsApp:

085179917579

Mulai dari menentukan ide, mencari fokus penelitian, memahami penelitian terdahulu, menemukan research gap, hingga mempersiapkan kebutuhan skripsi.

Sudah punya beberapa jurnal? Yuk, kembangkan menjadi research gap yang lebih jelas bersama Molulus.id.